Home About
Mistika & Logika March 25, 2026

Batu, Tanah, dan Tubuh yang Dirampas dari Akalnya Sendiri

Batu, Tanah, dan Tubuh yang Dirampas dari Akalnya Sendiri

Batu, Tanah, dan Tubuh yang Dirampas dari Akalnya Sendiri 


Pagi itu di Lampung Timur, langit tak memberi firasat apa-apa. Biru biasa, menudungi jalan-jalan kecil, kebun, parit, pohon-pohon, rumah-rumah yang setia seperti tubuh desa sederhana, tak pernah memusuhi bumi. Tak ada tanda bahwa hari itu akan menguliti satu kebenaran yang lama kita injak. Bahwa yang kita kira mati justru menyimpan denyut. Perjalanan kecil dari Situs Purbakala Pugung Raharjo ke Giri Mulyo, yang mestinya cuma urusan Ashadi ambil alpukat, mendadak berubah jadi pemeriksaan atas akal kita sendiri telanjang, berkeringat, tak bisa sembunyi.



Di bawah pohon alpukat, di halaman belakang rumah Pak Jaffar, batu-batu yang selama ini dipijak, diduduki, diabaikan, tiba-tiba menolak diperlakukan sebagai benda mati. Iyan mengambil ponselnya, benda dingin dengan sensor magnetik membaca sesuatu pada mereka. Angka di layar bergerak. Batu pertama, bergerak. Batu kedua, bergerak. Batu ketiga, bergerak lagi. Bagas berteriak, "edan semua batu hidup pak”, sambil memperbaiki letak blangkon-nya dan melemparkan puntung rokok kretek 76. Tak panjang pikir langsung kami diduduki untuk merasakan sensasi denyut batu. Inilah lahir kalimat rakyat yang selalu datang lebih dulu sebelum ilmu sempat merapikan bahasanya, “semua batu di sini hidup," ujar Iyan tanpa ekspersi, namun penuh kegirangan tersembuyi dalam hatinya. Terketus kata, “wah, pantas Menteri, Jenderal, Gubernur, Bupati pejabat datang kemari ter-tarik energi batu”. Ya, setiap makna batu hidup berarti ada gelombang EMF (ElectroMagnetic Field) kekuatan radiasi medan elektromagnetik.


Kalimat itu bisa dibaca keliru bila orang buru-buru ingin tampak modern. Tapi ia juga bisa dibaca sebagai gejala akal yang sedang meraba kenyataan dengan tangan telanjang. Hanya saja tak diberi bahasa yang cukup. Masalah terbesar kita bukan karena rakyat terlalu dekat dengan mistik. Masalahnya adalah ilmu terlalu lama dijauhkan dari hidup sehari-hari. Ketika batu tak dijelaskan, ia dikeramatkan. Ketika tanah tak dipahami, ia dipasrahkan. Ketika tubuh tak dibaca dengan akal, ia dibebani kutukan, tahayul, nasib. Di situlah perampasan pertama terjadi. Bukan pada sawah, hutan, atau kebun, melainkan pada akal. Rakyat dirampas dari kemampuan menjelaskan dunia yang menopang hidupnya sendiri.


Padahal batu itu bukan sembarang benda. Kajian geologi di sekitar Goa Pandan, Sukadana, dan Lampung Timur menunjuk lingkungan lava basaltik dengan ciri massive lava, struktur vesikular, dan autobreccia jejak aliran lava yang pernah cair, panas, bergerak, lalu membeku jadi basalt. Dengan kata lain, batu-batu yang tampak biasa di Giri Mulyo itu bagian dari tubuh bumi yang pernah meleleh. Mereka bukan gaib. Mereka api yang didinginkan waktu. Mereka tubuh bumi yang sedang diam, tapi belum berhenti membawa riwayatnya sendiri.


Dekatkan mata. Batu itu gelap, berat, kadang berlubang. Lubang-lubang kecil itu bukan cacat tanpa sebab. Itu vesikel, jejak gas yang terperangkap ketika lava membeku. Bagi geologi, ini tekstur. Bagi rakyat yang diajar berpikir dengan akal, ini bukti bahwa bumi pernah bernapas lewat api. Batu berhenti jadi benda biasa; ia jadi arsip. Ia menyimpan kejadian, tekanan, panas, waktu. Ia tak hidup seperti kambing atau pohon, benar. Tapi ia juga tak mati dalam arti pasif. Ia melapuk, berubah, melepaskan unsur, menanggapi medan, dan akhirnya menjadi bagian dari tanah. Batu lebih jujur daripada banyak pidato pembangunan. Ia tak mengaku-ngaku. Tapi di tubuhnya ia menyimpan sejarah yang lebih tua dari republik, lebih tua dari negara, bahkan lebih tua dari kebun tempat ia kini tergeletak.


Sebelum Giri Mulyo, kami singgah di Pugung Raharjo bertemu sang kuncen Mas Widi. Bercerita banyak orang datang ritual bahkan menari mengelilingi Yoni ditengah situs. Pun' demikian akhirnya Mas Widi kami sapa ikut menari dipandu oleh Bagas berkat openlock gelombang energi. Tanah di situs purbakala itu memperlihatkan bahwa manusia sudah lama menulis makna di atas bumi jauh sebelum negara menulis surat keputusan. Punden berundak, parit tanah, batu mayat, arca, keramik, jejak budaya, tanah tak pernah netral. Ia menyimpan tubuh manusia, keyakinan, ritus, batas, ingatan. Pugung Raharjo adalah arsip manusia. Kajian Institut Negeri Sumatera (ITERA) menyebutkan di Pugung Raharjo menganalisis kualitas kecerahan langit malam mencapai 20,07 MPAS. Dengan menggunakan Sky Quality Meter (SQM). Di beberapa titik situs purbakala didapati nilai kecerahan langit malam tertinggi yaitu 20,07 MPAS dengan rata-rata 20,01 MPAS. Serta meneliti orioentasi punden berundak untuk mengungkap hubungan struktur megalitikum dengan fenomena astronomi purba. Terungkap lokasi minim polusi cahaya, menungkinkan pengamatan Galaksi Bima Sakti secara mata telanjang serta Andromeda menggunakan teleskop. Ternyata yang kita sebut Purba lebih intelek, ‘ngelmu mempelajari astronomi menentukan arah hidup dan alam. Bukan dengan menyan dan kembang tujuh rupa saja. Bila Pugung Raharjo arsip manusia, Giri Mulyo arsip bumi. Keduanya mengajarkan hal yang sama, yang kita pijak tak pernah kosong. Yang kosong seringkali justru mata kita.


Dari batu dan tanah, pelajaran itu naik ke langit. Unsur-unsur yang menyusun basalt magnesium, silikon, kalsium, besi tak lahir di kebun Pak Jaffar. Mereka membawa sejarah yang jauh lebih tua. Materi edukasi NASA tentang siklus hidup unsur menautkan Mg, Si, Ca, Fe dengan evolusi bintang-bintang besar. Artinya batu di Giri Mulyo, pada lapisan terdalamnya, adalah warisan kosmik. Ia bukan hanya lokal. Ia langit yang telah lama didinginkan menjadi bumi. Dan ketika batu lapuk menjadi tanah, tanah mengangkatnya ke akar, akar menyerahkannya ke daun dan buah, lalu buah masuk ke tubuh manusia maka sesungguhnya langit telah terlalu lama tinggal di dalam diri kita tanpa kita akui. Pantes punden berundak dan batu disusun di situs purbakala, karena batu tegak Yoni kontak dengan emaknya dilangit.


Di sinilah kalimat Carl Sagan berhenti jadi kutipan manis dan berubah jadi tamparan, “The cosmos is within us. We are made of star-stuff. We are a way for the universe to know itself.” (Sagan, Carl. Cosmos. New York: Random House, 1980). “Kosmos ada di dalam diri kita. Kita terbuat dari materi bintang. Kita adalah cara bagi alam semesta untuk mengenal dirinya sendiri.” Besi dalam hemoglobin, magnesium dalam kerja enzim, kalsium dalam tulang, gigi, saraf, dan otot NIH mencatat peran vital ketiganya semua itu menunjukkan tubuh bukan benda kecil yang dimulai dari dirinya sendiri. Tubuh adalah semesta yang sudah lama bekerja, lalu untuk sementara memakai nama seseorang. Siapa yang menghina tubuh, menghina bentuk paling dekat dari sejarah bumi dan langit. Siapa yang merusak tanah, merusak jalur pembentukan darah dan tulangnya sendiri.


Otak manusia bukan benda gaib yang turun jadi sempurna. Ia adalah hasil evolusi panjang. Dalam pendekatan yang kemudian dikenal luas melalui gagasan “triune brain”, otak dapat dipahami secara bertingkat: bagian-bagian tua yang mengatur naluri dasar, bagian mamalia yang mengatur emosi, dan korteks yang memungkinkan abstraksi, bahasa, matematika, dan refleksi. Bahwa di dalam kepala manusia hidup warisan dari tahap-tahap evolusi yang berbeda. Kita membawa jejak reptil, mamalia, dan makhluk simbolik sekaligus. Secara biologis, otak manusia terdiri dari sekitar 86 miliar neuron yang terhubung melalui sinapsis. Dari hubungan listrik-kimia itulah muncul persepsi, ingatan, rasa takut, bahasa, cinta, dan imajinasi. Tidak ada satu “ruang memori” tunggal; memori tersebar, terkodekan, diperkuat, dan diubah melalui jaringan. Sesuatu yang kita alami hari ini dapat menjadi jejak fisik di otak esok hari.


Lalu datang tanah dan di titik ini kesalahpahaman kita telanjang. Tanah terlalu sering diperlakukan hanya sebagai lahan, bidang, properti. Padahal tanah adalah batu yang cukup sabar untuk hancur agar kehidupan bisa berdiri. Literatur ilmu tanah dan nutrisi tanaman menunjukkan pelapukan batuan menyuplai unsur ke sistem tanah; Mg, Ca, Fe, serta Si penting bagi tumbuhan. Jadi kesuburan tak turun seperti wahyu. Ia lahir dari pelapukan, air, udara, mikroorganisme, bahan organik, dan waktu yang panjang. Kesuburan adalah kerja material yang sabar. Tapi karena ilmu tentang tanah tak sungguh diajarkan kepada rakyat, banyak hal dibaca sebagai karomah tanpa proses. Panen baik, orang lupa tanah. Panen jelek, orang mencari kutukan. Mistik, di sini, tak lahir dari langit. Ia lahir dari absennya penjelasan material.


Dalam teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta berawal dari keadaan sangat panas dan rapat sekitar 13,8 miliar tahun lalu, lalu mengembang hingga sekarang. Ini mendukung gagasan Sagan bahwa kosmos bersifat historis dan berkembang, bukan abadi dalam bentuk statis.(Hawking, 1988; Weinberg, 1977). Dalam Cosmos, waktu selalu hadir bukan hanya sebagai konsep fisika, tetapi juga sebagai alat etika. Carl Sagan mengajak pembaca untuk melihat umur manusia yang singkat dibanding umur bintang, galaksi, dan alam semesta. Hidup manusia rata-rata tidak sampai satu abad; sementara bumi berumur sekitar 4,5 miliar tahun, dan alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun.


Bapaknya Nazwa Shihab, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, merujuk pada ayat yang paling langsung tentang manusia dari tanah adalah QS. As-Sajdah [32]: 7: “Dan Dia memulai penciptaan manusia dari tanah.” Dalam ayat; QS. Ali ‘Imran [3]: 59 “Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah dia.” QS. Al-Hijr [15]: 26, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”, QS. Al-Mu’minun [23]: 12, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati yang berasal dari tanah.” QS. Al-Hajj [22]: 5, “Wahai manusia! Jika kamu ragu tentang kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani…”. Ini sebagai penegasan bahwa asal penciptaan manusia pertama berasal dari tanah, lalu keturunannya berlangsung melalui proses biologis pada ayat sesudahnya. Melalui penganugerahan akal, pencarian pembuktian kekuatan keyakinan.


Dari tanah, perjalanan bergerak ke akar, daun, buah dan akhirnya ke alpukat. Pohon alpukat di kebun Pak Jaffar bukan sekadar penghasil komoditas, ia mesin kehidupan yang bekerja tanpa pidato. Hasil keringat dan air mata suhu Ashadi dan Subcomandante Pak Idi penerima Kalpataru. Akar menyerap. Daun menangkap cahaya. Unsur bergerak. Air naik. Waktu mematangkan. Buah adalah bentuk paling lembut dari sejarah geologi yang dapat dimakan. Kita terlalu lama memandang makanan sebagai benda pasar. Padahal makanan adalah ringkasan dari kosmos, bumi, tanah, air, tumbuhan, dan kerja manusia. Ia semesta yang telah cukup matang untuk masuk ke mulut kita. Siapa yang makan tanpa hormat, siapa yang menyia-nyiakan pangan, sedang meremehkan kerja panjang dunia yang menopang hidupnya sendiri.


Pengetahuan ini tak boleh berhenti sebagai renungan indah. Ia harus masuk ke luka sosial; hutan, tanah, rakyat, hukum. Ketika ruang hidup rakyat diputus dari tanahnya, yang dirampas bukan hanya kebun atau penghasilan. Yang diputus adalah jalur paling dasar yang menghubungkan tubuh dengan syarat hidupnya. Itulah kenapa konflik agraria juga konflik tubuh. Hutan yang semestinya menjadi rahim ekologis bisa berubah menjadi rahang ketika bahasa kawasan, register, dan administrasi berbicara lebih keras daripada jejak kaki manusia. “Hutan dilarang memakan anak sendiri” kalimat itu keras karena benar.


Di titik ini gagasan ekosipasi penting. Prof. Robertus Robet, dalam pidato pengukuhan guru besarnya, mendorong perluasan pembebasan dari emansipasi yang hanya berpusat pada manusia menuju politik ekologi dan kewargaan baru. Bagi rakyat, artinya sederhana tapi radikal, kebebasan tak bisa dibayangkan secara waras bila tanah, hutan, air, dan tubuh terus dihancurkan. Tak ada kemerdekaan di atas tanah yang rusak. Tak ada keadilan di atas air yang tercemar. Tak ada hak hidup yang sehat bila pangan tumbuh dari lanskap yang dihancurkan.


Dari kebun alpukat di Lampung Timur, pelajaran ini keras dan sederhana. Rakyat harus belajar kembali membaca batu. Bukan untuk menjadi geolog semua, bukan untuk menghapus takjub dari hidup melainkan untuk memurnikan takjub itu dari lumpur mistika. Ilmu bukan musuh keajaiban. Ilmu memurnikan keajaiban dengan menunjukkan bahwa dunia material lebih menakjubkan daripada tahayul apa pun. Batu bukan gaib, tetapi sejarahnya luar biasa. Tanah bukan benda rendah, ia rahim kesuburan. Tubuh bukan kutukan, ia amanah semesta. Hutan bukan semata kawasan, ia syarat hidup yang diam-diam ikut bernapas di dalam tubuh manusia.


Tan Malaka, lewat Madilog, berusaha menyelamatkan akal rakyat dari kekaburan berpikir. Materilisme dialektika logika, suatu ikhtiar melawan mistika yang sengaja ditabur oleh kolonial untuk mengaburkan akal. Tugas serupa kini turun ke batu, kebun, tanah, tubuh, dan hutan ke hal-hal paling dekat dengan hidup rakyat, yang justru paling sering dirampas dari penjelasan ilmiah. Hanya dengan itu rakyat berhenti takut pada benda yang tak dipahaminya, berhenti pasrah pada nasib yang sebenarnya punya sebab, dan mulai melihat bahwa akal bukan kemewahan kaum kampus. Akal adalah alat hidup orang yang berpijak di bumi.


Dan mungkin, dari situ, kita bisa mengerti satu hal yang lama dilupakan yang paling jauh sering paling dekat. Langit ada dalam darah. Bumi ada dalam tulang. Batu ada dalam buah. Dan tubuh manusia, bila cukup jernih membaca dirinya akan tahu ia tak pernah hidup di luar hubungan. Ia, seperti kata Sagan, adalah cara semesta mengenal dirinya sendiri bukan sebagai puisi hiasan, melainkan sebagai kenyataan yang menetes di peluh, di tanah, di buah yang kita kunyah.

Penta Peturun -

Share this:

Further Reading