Home About
Sejarah & Kebangsaan March 24, 2026

Rudal di Langit Tehran, Bensin di Dada Jakarta 

Rudal di Langit Tehran, Bensin di Dada Jakarta 

Rudal di Langit Tehran, Bensin di Dada Jakarta 

(Perang Iran vs Israel-AS, dan tubuh yang paling dulu menanggungnya: driver ojol)


Jakarta tak pernah benar-benar netral. Kota ini tak punya bunker, tak punya sirene yang merobek malam, tak punya balon api yang mengembang di langit seperti Tehran atau Tel Aviv. Tapi ia punya bakat yang lebih lacur dan lebih kejam. Menyedot perang orang lain ke dalam pori-pori harian. Ia mengubah rudal jadi angka. Mengubah konflik jadi tarif. Mengubah geopolitik jadi ongkos hidup. Dan di ujung rantai yang licin oleh oli dan peluh itu, ada driver ojol yang mematikan mesin di pinggir jalan, menatap jarum bensin seperti menatap sisa umur, bergetar, naik-turun, menipu.


Perang Iran vs Israel-AS yang meletus sejak akhir Februari 2026 tak mau tinggal di Timur Tengah. Ia merayap lewat Selat Hormuz, menetes ke pasar minyak, menempel di kurs dolar, merembes ke APBN, lalu turun lagi lebih rendah, lebih kotor ke tubuh kota yakni ke tangki motor yang bau bensinnya menempel di kulit lebih lama dari sabun, ke argo pengantaran, ke lauk makan siang, ke cicilan yang belum lunas, ke napas pekerja platform yang hidup dari order harian. Reuters, 24 Maret 2026, mencatat Brent kembali menyundul US$ 101,77 per barel setelah Teheran membantah kabar pembicaraan dengan Washington, sementara pasokan dari Teluk masih tersendat. Reuters juga menulis, "seperlima minyak dan LNG dunia biasanya lewat Hormuz, dan gangguan kali ini kata IEA adalah yang terbesar dalam catatan".


Bagi negara, ini shock energi. Bagi pasar, volatilitas. Bagi driver, lebih telanjang, lebih basah, “Tarikan segini, bensin segini, sisa buat rumah berapa?” Kalimat itu tak terdengar akademik. Justru di situ ekonomi-politik membuka pahanya paling jujur.


Dari Hormuz ke Jakarta Timur

APBN 2026 disusun dengan asumsi minyak US$ 70 dan dolar Rp 16.500 angka dunia yang tenang, angka di atas meja rapat, lahir sebelum langit kembali penuh api. Kini asumsi itu seperti janji yang dikunyah perang, diludahkan kembali ke muka kita. Pemerintah menyiapkan penghematan sekitar Rp 80 triliun. Menkeu bilang, kalau harga bertahan tinggi, yang dipotong belanja biar defisit tak liar. Subsidi dan kompensasi energi 2026 ada di kisaran Rp 381,3 triliun. Kalau harga bertengger di US$ 90-92, defisit bisa didorong ke 3,6% PDB; skenario lebih buruk, lewati 4%. Angka-angka itu, di tangan birokrat, adalah alarm fiskal. Di tangan driver, ia berubah jadi pertanyaan yang lebih binatang, besok bensin masih kebeli?. Order masih masuk?. Makan siang masih bisa ditelan tanpa mengunyah ludah sendiri?


Di Kramat Jati, Rian (34), dua anak, kredit motor belum lunas, tak hafal nama komandan Garda Revolusi, tak hafal sistem pertahanan Israel, tak peduli debat posisi Rusia atau China. Tapi ia hafal satu ritual yang lebih intim dari doa. Sebelum narik, berapa liter yang bisa dibeli. Sesudah narik, berapa rupiah yang tersisa setelah bensin, makan, kuota, dan setoran hidup ditutup. “Berita perang itu masuknya ke tangki dulu,” katanya, “bukan ke kepala.” Jaketnya lengket di punggung karena keringat yang mengering lalu basah lagi; telapak tangannya kapalan mencengkeram setang seperti mencengkeram nasib yang licin. Bau bensin meresap ke pori-pori, menempel di leher, di lipatan kaus wangi kota yang tak romantis.


Ia bukan satu orang. Ia tipe sosial yang jumlahnya jutaan. Negara sudah mengakui, rancangan Perpres yang dibahas awal 2026 bisa memangkas komisi platform dari 20% ke 10%, memperluas perlindungan kecelakaan dan kematian, mewajibkan kontribusi bersama untuk kesehatan, pensiun, hari tua. Fakta itu penting sebelum perang pun, kesejahteraan driver memang sudah telanjang. Perang hanya merobek kain penutupnya sampai ke selangkangan.


Pekerja cair, biaya yang padat

Litbang Kompas mencatat: 48,8% driver ride-hailing di awal 2026 mengantongi kotoran harian Rp 75.000 - Rp 100.000. Itu kotor belum disunat bensin, servis, ban, kuota, makan di jalan, dan cicilan bagi yang belum memiliki motor sepenuhnya. Dalam struktur begini, kenaikan ongkos sekecil apa pun bukan “penyesuaian”. Ia sayatan langsung ke jaringan hidup yang sudah tipis, mengiris sampai daging. Paradoks platform di layar ia tampak modern, fleksibel, digital, canggih. Di bawahnya, ia tetap bertumpu pada hal-hal tua dan kasar: tubuh manusia, bensin, jalan berlubang, panas yang memanggang tengkuk, hujan yang merembes ke celana dalam, jam kerja yang memanjang seperti karet yang ditarik sampai mau putus. Perusahaan menjualnya sebagai kemerdekaan. Realitas jalanan mengoperasikannya sebagai ketergantungan yang mengikat seperti tali celana yang ditarik kencang.


Dalam bahasa yang lebih jujur, mereka “tenaga kerja cair” bukan buruh formal, bukan wiraswasta murni, bukan penganggur, melainkan pekerja yang menanggung risiko usaha sendiri sambil tunduk pada aturan yang tak mereka tulis. Fleksibel untuk pasar, rapuh untuk hidup. Ketika harga energi naik, mereka yang pertama menyerap pukulan karena tak punya bantalan. Negara masih punya APBN. Perusahaan masih punya pricing strategy. Bank sentral masih punya instrumen. Driver hanya punya satu opsi yakni narik lebih lama.


Dan jam tambahan itu tidak gratis. Ia dibayar dengan pinggang yang cepat panas, mata yang perih menahan debu dan lampu, rem yang dipaksa sampai berdecit, dan rumah yang menunggu seseorang pulang dalam keadaan utuh atau setidaknya tidak roboh di tikungan.


Algoritma tak kenal belas kasihan

Perang tak membuat aplikasi berhenti. Algoritma tak pernah berkabung. Server tak kenal syok geopolitik. Di tengah lonjakan energi, aplikasi tetap dingin: supply, demand, rating, acceptance rate, insentif, penalti. Platform tak mencium bensin, tak menahan panas aspal, tapi ia mengatur ritme jutaan orang yang hidup di atas motor seperti mucikari digital yang menghitung kamar.


Di sini perang global bertemu bentuk paling modern dari ketimpangan: platform capitalism. Driver bisa mengantar kopi puluhan ribu, sushi, roti artisan, kosmetik, obat, hadiah ulang tahun pulang dengan nasi bungkus dan pertanyaan apakah besok cukup untuk dua liter bensin. Kota mengajarinya satu hal. Ia boleh menyentuh aliran konsumsi kelas menengah, tapi tak diizinkan tinggal di dalamnya. Hanya boleh mengendus aromanya dari pinggir trotoar.


Ada sensualitas gelap dalam kerja jalanan bukan kenikmatan, melainkan gesekan hidup dengan benda-benda kasar. Telapak tangan yang terus menggenggam setang sampai garis tangan hilang ditelan kapalan. Jaket yang melekat di punggung karena keringat yang mengering lalu basah lagi, meninggalkan peta garam di kain. Getaran mesin yang naik ke paha, merayap ke tulang ekor, menetap di selangkangan seperti dengung yang tak mau pergi. Bau bensin yang menempel di kulit lebih lama daripada sabun, meresap ke ketiak, ke lipatan leher. Lampu-lampu kota yang indah hanya dari jauh seperti tubuh yang selalu mengundang, tapi tak pernah membuka pintu. Tubuh driver adalah lokasi kerja, alat produksi, sekaligus tempat krisis mendarat paling awal, paling telanjang.


Perang membuat semua itu lebih mahal.

Saat negara menahan harga, rakyat menahan napas. Indonesia terlihat “lebih tenang” dari banyak pasar lain. Reuters menulis, ketika banyak bursa Asia kebanjiran arus keluar karena takut shock minyak, Indonesia masih mencatat arus masuk kecil, sekitar US$ 59 juta. Tapi bursa hijau tak menjamin dapur tak merah. Lantai dansa boleh berkilau, sementara kompor di kontrakan tetap mati. Masalah paling dalam ada di dua titik yang tak selalu terlihat yakni fiskal energi dan nilai tukar. BI menahan suku bunga di 4,75% dan menyebut konflik Timur Tengah membatasi ruang penurunan bunga. Dengan kata lain, perang tak hanya menaikkan harga minyak, tapi juga mengunci pintu moneter yang dibutuhkan untuk menopang pertumbuhan.


Bagi driver, rangkaian itu terasa begitu kasar, berulang, menghantam selangkangan hidup. Bensin lebih mahal. Pelanggan menahan belanja. Order bisa turun atau stagnan. Ongkos servis ikut naik. Uang yang dibawa pulang berkurang bukan karena ia malas, tapi karena seluruh sistem di sekelilingnya mengeras seperti aspal siang bolong.


Kalau harga energi terus tinggi, pemerintah dihadapkan pada pilihan getir. Menahan harga BBM dan listrik dengan kompensasi jumbo, atau menyesuaikan belanja dan membiarkan sebagian beban pindah ke rakyat. Dalam dua skenario itu, rumah tangga miskin tetap di garis depan, telanjang dada menahan angin.


Pangan: Perang yang masuk ke meja makan


Yang paling krusial bukan bursa, bukan diplomasi, bukan kurs yang abstrak. Yang paling krusial adalah pangan. Perang tak perlu menyentuh sawah untuk membuat beras, telur, minyak goreng, cabai, bawang naik. Cukup bikin energi lebih mahal, logistik lebih berat, rupiah lebih rapuh. Maka meja makan yang pertama goyah, piring bergetar seperti paha yang kram.


Rumah tangga miskin tak “mogok konsumsi”. Mereka menyusut diam-diam dari lauk dikurangi, protein diturunkan, belanja dipersempit, perjalanan dihemat, anak ditunda jajan, orang tua menahan lapar lebih lama. Itulah kemiskinan yang menebal bukan jatuh seketika, melainkan menyusut pelan-pelan sampai kualitas hidup rontok tanpa bunyi, seperti cat mengelupas di dinding kontrakan. Driver ojol paling rentan karena hidup dari harian. Tak ada payroll bulanan, tak ada bantalan THR besar dari korporat. Pendapatan fluktuatif, tapi biaya dasar bensin, makan, kuota, cicilan datang tiap hari seperti debt collector yang tak pernah libur, mengetuk pintu dengan jari yang dingin.


Siapa yang untung, siapa yang terkoyak

Di panggung global, ada yang panen windfall. Rusia, misalnya, menunda perubahan strategi dana fiskal karena lonjakan harga energi memperbaiki penerimaan minyak-gas jangka pendek. Tapi di negara seperti Indonesia, perang tak memberi windfall. Ia memberi tagihan. Dan tagihan itu paling dulu ditagih kepada mereka yang hidup paling dekat dengan mesin dan paling jauh dari kuasa. Inilah kejahatan paling tenang dari ekonomi-politik global. Presiden bicara stabilitas, panglima bicara eksistensi, analis bicara supply shock. Sementara driver ojol hanya bertanya apakah malam ini cukup untuk nasi, rokok, dan dua liter bensin buat besok. Lidah mereka kelu, tapi tubuh mereka berteriak.


Perang membuat negara menegosiasikan defisit. Membuat perusahaan menegosiasikan tarif. Membuat rakyat kecil menegosiasikan lapar dan lapar selalu menang di menit akhir.


Tubuh yang terus menyala

Menjelang tengah malam, Rian mematikan mesin di depan minimarket. Aplikasi masih menyala, order belum masuk. Ia menatap jarum bensin, lalu menatap langit yang tak peduli namanya. Di layar masih berderet: Trump, Netanyahu, Iran, rudal, minyak, Hormuz, pasar. Nama-nama besar. Permainan jauh. Yang ia hitung bukan strategi perang, melainkan apakah besok masih bisa bekerja, masih bisa menukar peluh dengan recehan yang cukup.


Mungkin inilah ukuran paling jujur dari sebuah konflik global. Bukan berapa rudal melesat, bukan berapa kapal ditahan, melainkan berapa banyak orang kecil yang dipaksa bekerja lebih lama hanya untuk bertahan di tempat yang sama, menukar kulit yang terbakar matahari dengan angka yang tak pernah cukup.


Di Jakarta, perang tak datang sebagai ledakan. Ia datang sebagai bensin yang mengering di tenggorokan tangki, order yang lambat seperti napas tersengal, lauk yang menipis di piring seng, dan tubuh yang terus dipaksa menyala, basah, lelah, berdenyut. Dan ketika dunia selesai berdebat tentang perdamaian, para driver itu tetap menyalakan mesin lagi karena bagi mereka, perang paling panjang bukan di Timur Tengah. Perang paling panjang adalah perang untuk pulang membawa cukup, dengan punggung yang lengket oleh keringat dan dada yang masih berdegup menahan kota.

Share this: