Home About
Sejarah & Kebangsaan May 24, 2026

Kota-Kota yang Hilang

Kota-Kota yang Hilang

Kota-Kota yang Hilang: Bukan Hanya Ditelan Alam, Tapi Juga Dihancurkan Tangan Manusia

Dari Trowulan, Sriwijaya, Tulang Bawang, Tambora, Demak, Banten, Banda, hingga Pantura hari ini: kota tidak lenyap tiba-tiba. Alam memang bisa datang sebagai air, abu, gempa, rob, dan lahar. Tetapi jauh sebelum itu, sering kali tangan manusialah yang lebih dulu merusak sungai, tanah, rakyat, pasar, kuasa, adat, dan ingatan.




Kota tidak hilang dalam semalam.

Ia mula-mula kehilangan sungai yang dulu dipeluk seperti saudara. Lalu kehilangan pasar yang dulu riuh oleh bau ikan, keringat kuli, rempah, padi, kain, keramik, dan suara tawar-menawar yang lebih jujur daripada pidato penguasa. Setelah itu ia kehilangan raja yang waras, elite yang tahu malu, pelabuhan yang hidup, rakyat yang betah, adat yang dihormati, dan tanah yang masih sanggup menanggung beban.


Barulah alam datang sebagai babak terakhir.
Air naik.
Abu turun.
Rob masuk ke ruang tamu.
Lahar mengalir seperti surat murka dari perut bumi.
Waktu menutup semuanya dengan debu pelan-pelan.


Dan manusia makhluk yang paling pandai membuat alasan berdiri di depan reruntuhan sambil pura-pura terkejut. Padahal sering kali reruntuhan itu sudah lama ia bangun sendiri. Dengan izinnya. Dengan proyeknya. Dengan keserakahannya. Dengan diamnya. Dengan peta tata ruang yang dibuat di ruang dingin, jauh dari sungai yang sedang sekarat dan kampung yang saban tahun makin tergenang.


Di Nusantara, kota-kota tidak selalu mati seperti gedung yang ambruk. Banyak yang mati seperti cinta yang sudah lama tidak dirawat, mula-mula diam, lalu hambar, lalu asing, lalu hilang. Begitulah Trowulan. Begitulah Sriwijaya. Begitulah Tambora. Begitulah Demak. Begitulah Banten. Begitulah Banda. Begitulah pula Pantura hari ini—air datang bukan lagi sebagai pemandangan, melainkan sebagai penagih utang.


Utang kepada rawa yang ditimbun.
Utang kepada sungai yang disempitkan.
Utang kepada hutan yang dibuka.
Utang kepada air tanah yang disedot sampai bumi turun perlahan.
Utang kepada rakyat kecil yang disuruh tabah di tempat yang semakin tidak adil untuk ditinggali.
Utang kepada adat yang dulu menjaga tanah, tubuh, sungai, dan kehormatan, tetapi hari ini sering dianggap ornamen seremoni.




Trowulan: Kota Besar yang Kehilangan Jantung

Trowulan bukan sekadar bata merah yang tersisa di Mojokerto. Ia bukan sekadar objek foto, bukan hanya tempat anak sekolah datang membawa buku catatan, bukan pula sekadar nama yang dipajang di museum. Trowulan adalah dada tua Majapahit. Di sana pernah berdenyut kota besar: istana, pasar, kanal, kolam, perajin, prajurit, pendeta, pujangga, tukang batu, pedagang, petani, perempuan-perempuan pasar, anak-anak kampung, dan rakyat kecil yang namanya tidak masuk prasasti tetapi punggungnya memikul sejarah.


Kota sebesar itu tidak hidup hanya karena raja. Ia hidup karena air mengalir. Karena sawah memberi makan. Karena pasar bergerak. Karena jalur dagang aman. Karena kanal dirawat. Karena rakyat masih percaya bahwa pusat kuasa memberi sesuatu untuk hidup mereka. Tetapi begitu pusat kuasa mulai pecah, kota kehilangan jantung. Elite berkelahi. Jalur dagang berubah. Pusat-pusat baru tumbuh. Legitimasi lama digerogoti zaman. Rakyat menyesuaikan diri seperti rumput setelah diinjak kuda perang. Kota yang dulu menjadi pusat dunia pelan-pelan berubah menjadi lapisan tanah, pecahan gerabah, bata, arca, dan cerita yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mau menunduk.


Trowulan mengajarkan satu perkara yang pahit, kota besar bisa runtuh bukan karena ia bodoh, tetapi karena sistem yang menopangnya mulai kehilangan akal sehat. Kota tidak cukup dibangun dengan kebesaran nama. Ia harus dirawat dengan air, pangan, keadilan, ingatan, dan kekuasaan yang tidak mabuk pada dirinya sendiri.



Sriwijaya: Kota Air yang Dicari dengan Mata Batu

Sriwijaya sering dibayangkan seperti istana batu yang berdiri gagah. Padahal boleh jadi ia lebih mirip tubuh air, “sungai, rawa, perahu, dermaga, rumah panggung, kanal, prasasti, arca, keramik, dan pasar yang hidup di dada Sungai Musi”. Kesalahan manusia modern adalah terlalu percaya pada batu. Kita mencari kota seperti mencari gedung. Kita mencari kerajaan seperti mencari tembok. Kita mencari kejayaan seperti mencari menara. Padahal kota-kota Nusantara sering hidup dari sesuatu yang lebih lincah yakni air.


Sriwijaya mungkin tidak meninggalkan gedung yang menantang langit, tetapi ia meninggalkan alur. Ia meninggalkan jejak kapal. Ia meninggalkan prasasti. Ia meninggalkan nama. Ia meninggalkan jaringan. Ia meninggalkan ingatan bahwa Nusantara pernah menjadi simpul dagang dan ilmu yang disegani. Sriwijaya hidup karena ia menguasai arus. Arus kapal, arus komoditas, arus pajak, arus ilmu, arus agama, arus kuasa. Ketika arus itu berpindah, kota ikut melemah. Inilah pelajaran yang masih gagal kita pahami hari ini. Kota-kota sungai modern sering memperlakukan sungai sebagai belakang rumah. Sungai menjadi tempat sampah. Kanal menjadi got. Rawa dianggap tanah kosong. Air dianggap musuh. Lalu ketika banjir datang, manusia menyebutnya bencana alam. Padahal sebagian dari banjir itu adalah jawaban alam atas kelakuan manusia. Sriwijaya mengajarkan, “ kota air hilang bukan semata-mata karena air berubah, tetapi karena manusia berhenti mengerti cara hidup bersama air”.



Tulang Bawang: Negeri Tanpa Negara, Sungai Tanpa Istana

Di antara kota-kota yang hilang dan kota-kota yang runtuh, ada satu pelajaran lain yang lebih halus: ada masyarakat yang tidak membangun negara seperti yang dibayangkan buku-buku tebal, tetapi tetap punya tata kuasa, kehormatan, aturan, dan kedaulatan. Tulang Bawang di Lampung memberi pelajaran itu. Ia tidak selalu hadir sebagai kota besar dengan istana permanen, tembok tinggi, birokrasi pajak, tuan tanah, dan tentara tetap. Tetapi ketiadaan istana bukan berarti ketiadaan kuasa. Dalam tulisan “Negeri Tanpa Negara: Adat, Sungai & Politik Kehormatan di Tulang Bawang”, Tulang Bawang dibaca sebagai masyarakat sungai yang memperlihatkan keteraturan sosial-politik kuat, legitimasi yang diakui, resolusi konflik yang bekerja, dan integrasi sosial yang tinggi tanpa harus mengeras menjadi negara feodal klasik. 


Di sana, sungai bukan sekadar garis biru di peta. Sungai adalah urat nadi. Ia menghubungkan kampung, mengantar kabar, membawa perahu, membuka jalur perkawinan, mempertemukan marga, dan menjadi jalan bagi musyawarah. Disebutkan dengan terang, di Tulang Bawang, kekuasaan tidak tumbuh dari batu dan dinding, melainkan dari air yang mengalir; sungai tidak memerintah, ia menghubungkan; ia tidak memaksa, ia membujuk.  Ini penting untuk membaca kota-kota hilang Nusantara. Sebab tidak semua peradaban harus tampak seperti istana. Tidak semua kedaulatan harus berdiri sebagai negara. Tidak semua politik harus hadir sebagai aparat. Ada politik yang bekerja melalui adat. Ada hukum yang hidup melalui kehormatan. Ada integrasi yang lahir dari perahu, jamuan, perkawinan, dan angkat saudara.


Di Tulang Bawang, adat bukan hiasan hari pesta. Ia adalah tata kuasa. Ketika tanah tidak boleh dijual keluar marga, itu bukan romantisme kampung, melainkan kebijakan agraria. Ketika konflik diselesaikan melalui pepung adat, itu bukan folklor, melainkan sistem peradilan. Ketika kehormatan atau piil lebih ditakuti daripada hukuman fisik, itu bukan moral kosong, melainkan mekanisme koersif non-kekerasan. 

Negara modern sering tidak sabar menghadapi bentuk kuasa semacam ini. Ia bertanya, “mana rajanya? Mana kantornya? Mana tentaranya? Mana pajaknya? Mana pusatnya?”. Padahal di masyarakat sungai, pusat tidak selalu diam di satu tempat. Pusat bisa bergerak mengikuti pepung, sengketa, perkawinan, dan keperluan bersama. Dalam kerangka Confederative Moral Polity, Tulang Bawang menunjukkan bahwa kedaulatan bisa hidup di komunitas, keputusan lahir dari musyawarah, legitimasi tumbuh dari kehormatan, dan kekuasaan tidak perlu mengeras menjadi negara.  Pelajaran yang sering dilupakan dalam membaca kota hilang. Kehancuran tidak selalu berarti runtuhnya bangunan. Kadang kehancuran dimulai ketika negara modern, pasar tanah, proyek, izin, dan administrasi yang kaku mulai gagal memahami adat sebagai sistem pengetahuan.


Jika sungai diputus dari adat, maka sungai menjadi kanal mati.
Jika tanah diputus dari marga, maka tanah menjadi komoditas dingin.
Jika kehormatan diputus dari hukum, maka hukum menjadi sekadar berkas.
Jika komunitas diputus dari ingatan, maka pembangunan menjadi mesin yang berjalan tanpa jiwa.


Tulang Bawang mengajarkan satu kalimat penting, “negeri bisa hidup tanpa negara, tetapi kota bisa mati bila negara dan pasar membunuh adat yang menjaga air, tanah, dan kehormatan”.



Tambora: Saat Abu Mengubur Dunia Kecil

Tambora adalah nama yang jika diucapkan pelan-pelan terdengar seperti pintu besar yang ditutup dari dalam bumi. Letusan 1815 bukan hanya peristiwa gunung. Ia adalah tragedi peradaban kecil. Sebuah dunia tertutup: rumah, dapur, bahasa, pasar, ladang, ternak, keluarga, doa-doa, rasa takut, dan harapan manusia yang tidak pernah sempat menulis surat perpisahan. Gunung itu tidak hanya mengeluarkan abu. Ia mengeluarkan keputusan alam yang tidak bisa digugat. Hari menjadi gelap. Bumi menutup kampung. Udara berubah menjadi ancaman. Manusia, ternak, rumah, dan ingatan masuk ke dalam lapisan piroklastik. Sejarah tidak lagi berjalan, tetapi terkubur.


Namun Tambora tidak boleh hanya dikenang sebagai bencana. Ia harus dibaca sebagai peringatan. Setiap gunung punya bahasa. Setiap sungai punya tanda. Setiap pesisir punya keluhan. Setiap tanah yang turun punya suara, meski pelan. Yang sering menjadi masalah bukan alam tidak bicara, tetapi manusia terlalu sibuk mendengar suara uang, proyek, kuasa, dan kepentingannya sendiri. Tambora mengajarkan, alam bisa mengubur kota, tetapi manusia modern tidak boleh membiarkan ingatan ikut mati.



Demak: Kota Pesisir yang Ditinggalkan Laut

Demak dulu dekat dengan laut. Hari ini banyak orang sulit membayangkannya. Begitulah waktu bekerja: ia menggeser air, menimbun selat, mengubah pelabuhan menjadi daratan, dan menjadikan kota maritim harus menjelaskan masa lalunya sendiri. Demak adalah cerita tentang pesisir yang berubah. Tentang kota yang pernah hidup dari air, kapal, perdagangan, Islamisasi, dan politik pelabuhan. Ketika lanskap air berubah, kota ikut berubah. Tetapi air tidak berubah sendiri.


Ada hutan di hulu yang dibuka. Ada tanah yang terkikis. Ada sungai yang membawa lumpur. Ada tambak, permukiman, jalan, pasar, dan kuasa manusia yang ikut mengubah arah sejarah. Demak adalah cermin untuk Pantura hari ini. Di pesisir utara Jawa, air laut tidak lagi sekadar berkilau indah saat matahari sore turun. Ia masuk ke halaman. Ia naik ke lantai rumah. Ia merendam jalan. Ia membuat tiang listrik berdiri seperti saksi bisu. Ia membuat anak-anak belajar bahwa musim bukan lagi hanya hujan dan kemarau, tetapi juga rob. Rob bukan sekadar air asin. Ia adalah cara laut mengetuk pintu manusia yang terlalu lama pura-pura tidak mendengar. Demak mengajarkan: kota pesisir runtuh ketika manusia terlambat membaca perubahan laut dan tanah.



Banten dan Banda: Kota yang Dipatahkan, Bukan Sekadar Ditinggalkan

Tidak semua kota hilang karena alam. Sebagian dihancurkan oleh manusia dengan cara yang lebih rapi, “lewat perjanjian, meriam, monopoli, pajak, benteng, dan tipu muslihat dagang”. Banten pernah ramai. Pelabuhannya hidup. Lada, kapal, ulama, saudagar, rakyat, dan kekuasaan bertemu di sana. Kota itu bukan hanya tempat tinggal, melainkan panggung kedaulatan. Tetapi kota dagang selalu hidup di antara dua godaan: pasar dan kuasa. Jika kuasa asing datang mengatur harga, pelabuhan, takhta, dan jalur kapal, maka kota tidak lagi menjadi tubuh merdeka. Ia menjadi tubuh yang dipinjam orang lain, diperas sampai lemah, lalu ditinggalkan ketika tidak lagi menguntungkan.


Banda lebih perih lagi. Pala membuat dunia datang dengan mata lapar. Rempah kecil itu pernah cukup kuat untuk menyeret kapal-kapal jauh, membangun benteng, menulis kontrak, membawa senjata, dan menghancurkan masyarakat lokal. Di Banda, bangunan masih bisa berdiri. Laut masih biru. Pala masih harum. Tetapi dunia sosial lama sudah dipatahkan.Itulah bentuk kehilangan yang paling licin: kota tidak selalu hilang sebagai bangunan, tetapi hilang sebagai kedaulatan.


Banten dan Banda mengajarkan, “tangan manusia bisa lebih ganas daripada badai bila ia bekerja atas nama monopoli, perang, dan kerakusan”.



Indonesia Hari Ini: Kota yang Belum Hilang, Tapi Sudah Diberi Tanda

Indonesia hari ini belum kehilangan kota seperti Tambora. Tetapi Indonesia sedang menerima tanda. BNPB melalui IRBI 2024 mencatat bahwa dari 38 provinsi, ada 8 provinsi berada pada kelas risiko bencana tinggi, 30 provinsi berada pada risiko sedang, dan tidak ada provinsi yang berada pada risiko rendah. Pada level kabupaten/kota, terdapat 151 kabupaten/kota pada kelas risiko tinggi dan 363 kabupaten/kota pada kelas risiko sedang. Risiko tinggi yang paling luas mencakup kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, serta banjir. 


Delapan provinsi berisiko tinggi bukan statistik untuk memenuhi halaman laporan.
Itu adalah suara kentongan.


Artinya ada rumah yang harus bersiap. Ada sekolah yang perlu jalur evakuasi. Ada puskesmas yang tidak boleh dibangun sembarangan. Ada pasar yang harus punya rencana darurat. Ada kota yang harus berhenti membangun seolah-olah tanah, air, adat, dan langit adalah pelayan tanpa batas. Seratus lima puluh satu kabupaten/kota berisiko tinggi bukan angka dingin. Itu adalah wajah. Anak sekolah. Nelayan. Petani. Buruh pabrik. Pedagang pasar. Sopir. Tukang ojek. Ibu-ibu yang menaruh barang di tempat tinggi karena air bisa datang kapan saja.


Bencana bukan sekadar alam. Bencana adalah pertemuan antara bahaya dan kerentanan.
Air tinggi menjadi bencana ketika ruang air dirampas.
Gempa menjadi tragedi ketika bangunan mengabaikan standar.
Kekeringan menjadi penderitaan ketika tata air rusak.


Rob menjadi pengusiran pelan-pelan ketika negara hanya datang membawa karung pasir, seremoni, dan kalimat sabar.



Tangan Manusia yang Meretakkan Kota

Tangan manusia bukan hanya tangan yang memegang cangkul.
Ia juga tangan yang menandatangani izin.
Tangan yang mengubah sawah menjadi beton.
Tangan yang membuka hutan tanpa menghitung hilir.
Tangan yang membiarkan air tanah disedot tanpa rasa bersalah.
Tangan yang menyusun tata ruang tanpa pernah menjejak lumpur kampung.
Tangan yang menganggap adat sebagai hiasan, bukan sistem tata kuasa.
Tangan yang menutup mata ketika rakyat kecil tinggal di tanah yang setiap tahun makin rendah.
Tangan manusia adalah elite yang sibuk berkelahi sementara sungai tersumbat.
Tangan manusia adalah pasar yang memindahkan komoditas lalu meninggalkan kota menjadi sepi.
Tangan manusia adalah kolonialisme yang merampas pelabuhan dan rempah.
Tangan manusia adalah pembangunan modern yang menindih situs lama.
Tangan manusia adalah kebijakan yang tidak membaca sejarah.
Yang sering gagal bukan rakyat. Rakyat justru terlalu sering dipaksa bertahan.
Mereka meninggikan lantai rumah.
Mereka memindahkan kasur.
Mereka menggantung barang.
Mereka menambal jalan.
Mereka menunggu bantuan.
Mereka berutang.
Mereka bekerja lagi.
Lalu kebanjiran lagi.

Rakyat kecil bukan tidak tangguh. Mereka terlalu sering dijadikan alasan agar sistem yang gagal tetap terlihat baik-baik saja.



Pelajaran untuk Kota Hari Ini

Dari kota-kota hilang Nusantara, ada enam pelajaran besar.

Pertama, kota air harus diperlakukan sebagai kota air. Jakarta, Semarang, Pekalongan, Demak, Palembang, Banjarmasin, Pontianak, dan Surabaya tidak boleh hanya dibaca sebagai kota beton. Mereka punya sungai, rawa, kanal, muara, laut, dan air tanah. Jika air dianggap musuh, kota akan perang setiap tahun. Jika air dipahami sebagai sistem hidup, kota masih punya kesempatan berdamai.


Kedua, kota dagang tidak boleh bergantung pada satu komoditas. Banda pernah dibuat rapuh oleh pala. Banyak kota industri dan tambang hari ini berisiko mengulang pola itu: tampak kaya saat komoditas naik, tetapi rapuh ketika lingkungan rusak, pekerja tertekan, dan pasar berubah.


Ketiga, kota pemerintahan runtuh jika kehilangan legitimasi publik. Gedung tinggi tidak cukup. Jalan lebar tidak cukup. Logo besar tidak cukup. Kota hanya hidup jika rakyat merasa punya tempat di masa depannya.


Keempat, kota bencana harus punya ingatan panjang. Tambora dan Liyangan mengajarkan bahwa gunung, sungai, laut, dan tanah punya riwayat. Setiap daerah harus punya memori bencana, jalur evakuasi, pendidikan lokal, dan kebijakan yang tidak mudah lupa.


Kelima, kota modern tidak boleh membunuh kota lama. Trowulan, Banten Lama, Kota Cina, Barus, Muara Jambi, Sriwijaya, dan situs-situs lain bukan tanah kosong. Mereka adalah arsip bangsa. Jika pembangunan tidak membaca arkeologi, kota hilang akan hilang untuk kedua kalinya.


Keenam, adat tidak boleh dicabut dari tanah dan sungai. Tulang Bawang mengajarkan bahwa adat bisa menjadi tata kelola air, tanah, konflik, kehormatan, dan solidaritas. Bila adat dipreteli menjadi tari penyambutan dan pakaian upacara saja, maka kita kehilangan salah satu teknologi sosial tertua Nusantara: kemampuan mengikat manusia tanpa harus menaklukkan.



Jangan Pura-Pura Terkejut

Kota yang paling berisiko bukan selalu kota yang paling miskin. Kadang kota yang paling berisiko justru kota yang paling sombong: merasa uang bisa membeli tanggul, beton bisa mengalahkan air, gedung tinggi bisa menggantikan tanah yang turun, dan pidato bisa menunda bencana.


Trowulan mengajarkan bahwa kuasa besar bisa menjadi reruntuhan.
Sriwijaya mengajarkan bahwa air adalah nadi, bukan tempat membuang sisa.
Tulang Bawang mengajarkan bahwa sungai, adat, tanah, dan kehormatan bisa membentuk kedaulatan tanpa harus menjadi negara.
Tambora mengajarkan bahwa alam punya kata terakhir.
Demak mengajarkan bahwa pesisir bisa berubah diam-diam.
Banten dan Banda mengajarkan bahwa tangan manusia bisa lebih ganas daripada badai.


Maka ketika air masuk ke rumah-rumah Pantura, ketika tanah turun di kota-kota pesisir, ketika sungai meluap di kota-kota besar, ketika tambang mencabik bukit, ketika adat dipinggirkan, ketika situs lama dihancurkan proyek baru, kita seharusnya tidak lagi bertanya: mengapa kota bisa hilang?. Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Berapa lama lagi manusia akan pura-pura tidak tahu bahwa tangannya sendiri sedang menulis bab pertama dari kota-kota yang akan hilang berikutnya?”.



Kota hilang bukan hanya karena alam marah, tetapi karena manusia gagal merawatnya.

Sungai yang kehilangan adat akan menjadi saluran air. Tanah yang kehilangan kehormatan akan menjadi komoditas. Kota yang kehilangan ingatan akan menjadi reruntuhan yang belum sadar dirinya sudah runtuh.



Share this: