KOTA YANG MEMAKSA ORANG MISKIN MEMBAYAR UNTUK MENJADI MANUSIA
SINOPSIS
KOTA YANG MEMAKSA ORANG MISKIN MEMBAYAR UNTUK MENJADI MANUSIA
Jakarta, Tubuh, Data, dan Martabat yang Digilas Sistem
“Di kota ini, bahkan untuk merasa lega pun orang miskin harus membayar.”
Jakarta, pada malam hari, sering tampak seperti perempuan yang terlalu pandai menyembunyikan luka. Dari kejauhan ia bercahaya, berkilau, berlekuk oleh menara-menara kaca, diselimuti lampu-lampu yang seolah tak pernah letih memantulkan kemajuan. Tapi bila kau cukup nekat untuk mendekat, cukup berani masuk ke lorong-lorong yang baunya lebih jujur daripada pidato-pidato pejabat, kau akan tahu: kota ini tidak pernah benar-benar memeluk semua orang dengan cara yang sama. Ada tubuh-tubuh yang dielus oleh fasilitas. Ada tubuh-tubuh lain yang dipaksa bertahan sambil menahan malu. Ada rumah-rumah yang mandi cahaya. Ada pula rumah-rumah yang tiap pagi mandi cemas. Ada halaman-halaman hijau yang disiram air dari kedalaman bumi. Ada pula kampung-kampung yang harus mengukur ember, menghitung receh, dan menunggu giliran hanya untuk membersihkan badan sendiri.
Di satu sisi Jakarta, air disedot dari kedalaman 100 meter untuk mencuci mobil dan menyiram taman di kawasan elit. Di sisi lain Jakarta, di kampung sempit yang menempel pada jantung metropolis, orang-orang kecil harus membayar Rp2.000 untuk masuk WC umum. Dua ribu rupiah untuk mandi. Dua ribu rupiah untuk buang air. Dua ribu rupiah untuk sekadar merebut kembali rasa lega dari tubuh yang telah terlalu lama dipaksa menahan. Kedengarannya kecil, sampai tubuhmu sendiri yang sakit. Sampai perutmu melilit. Sampai kau bolak-balik masuk karena diare. Sampai uang yang habis bukan lagi untuk makan, tetapi untuk memberi jalan pada derita keluar dari perutmu sendiri.
Dan di titik paling telanjang itulah, Wahyu, yang tinggal di kampung kumuh tapi nama mentereng yakni Menteng Dalam, dia biasa dijalanan panggilanya Gembel, pernah mengeluh dengan kalimat yang begitu kasar, begitu lucu, sekaligus begitu menyayat, sampai siapa pun yang mendengarnya tak akan mudah lupa. Dengan tubuh lemas, perut melilit, dan wajah yang lebih pucat daripada biasanya, ia berkata pada Ayah, sambil tertawa pahit seperti orang yang tak punya pilihan selain menertawakan nasibnya sendiri, “Bayangin, Bang… kalau gua bolak-balik sepuluh kali, dua puluh ribu melayang cuma buat berak. Tai aja berharga di sini.”
Kalimat itu mungkin terdengar seperti guyonan jalanan. Tapi justru di situlah tikamannya. Sebab apa yang lebih telanjang dari sebuah kota, bila bahkan tai pun menjadi barang yang harus dibayar mahal agar bisa keluar dari tubuh orang miskin?. Apa yang lebih menghina dari sebuah kemajuan, bila rasa lega yang paling dasar pun dipagari tarif?. Di Jakarta, ternyata bukan cuma rumah yang bisa dijual, tanah yang bisa dijual, jabatan yang bisa dijual, dan data yang bisa dijual. Di kota ini, bahkan kelegaan manusia kecil pun bisa diberi harga.
Di antara dua wajah Jakarta itulah Fadey tumbuh. Ia seorang anak laki-laki, tetapi matanya tidak diberi waktu terlalu panjang untuk tinggal polos. Rumahnya berdiri di antara kampung padat yang hidup dari solidaritas dan kawasan elit yang hidup dari kelimpahan. Sedikit melangkah, ia bertemu gang sempit, kabel kusut, dinding lembap, bau got, WC umum, pinggir kali airnya berwarna hitam, dan tubuh-tubuh kecil yang terus menambal martabatnya sendiri. Sedikit melangkah ke arah lain, ia bertemu kaca-kaca tinggi, halaman-halaman hijau, jalan-jalan protokol, dan dunia yang seolah lupa bahwa hanya beberapa kilometer dari sana ada manusia yang menghitung uang receh untuk bisa mandi.
Dari Bunda, Fadey belajar bahwa tubuh manusia adalah kitab yang tak pernah berbohong sepenuhnya. Nadi, napas, mata, lidah, kuku, kulit, bau badan, sorot wajah semuanya adalah huruf-huruf kecil dari cerita besar yang ditulis hidup di dalam badan. Bunda membaca tubuh seperti orang membaca doa yang hampir putus dengan sabar, dengan hormat, dengan tangan yang tidak tergesa. Ia tahu bahwa pusing bukan cuma pusing, sesak bukan cuma sesak, dan lelah bukan cuma lelah. Di balik tubuh yang sakit, sering berbaris kemiskinan, kurang tidur, air yang susah, ruang hidup yang sempit, marah yang tertelan, dan rasa takut yang terlalu lama dijadikan kebiasaan.
Dari Ayah, Fadey belajar hal yang lain lagi, yang tak kalah liar dan dalam. Bahwa kota juga tubuh. Bahwa hukum, teori, kopi, teknologi, jalan raya, kedutaan, kementerian, aplikasi, notifikasi, dan kampung-kampung kumuh adalah satu peta besar yang saling mencengkeram. Ayah mengajarinya bahwa data tidak pernah benar-benar netral, karena data selalu lahir dari keputusan tentang siapa yang layak dihitung dan siapa yang dibiarkan hidup di luar kolom. Ayah mengajarinya bahwa kopi bukan hanya minuman, tapi cara memahami proses; bahwa gunung bukan cuma tempat tinggi, tapi alat untuk mengembalikan manusia kepada ukuran dirinya; bahwa bahasa bukan sekadar bunyi, tapi jalan untuk menyeberang ke hidup orang lain tanpa merendahkannya. Di tangan Ayah, segala hal menjadi pintu baca; cangklong briar, kretek, robusta Lampung, pak ogah di persimpangan jalan jakarta, sampai algoritma yang mengatur hidup pengemudi ojol seperti tuhan kecil yang tak pernah menampakkan wajah.
Di rumah kecil itu, terlalu banyak dunia datang untuk duduk di kursi yang sama. Ada advokat, pegawai kementerian, dosen, staf khusus menteri, office boy kedutaan, seniman, orang kampung, pengurus RT, pengemudi ojol, pak ogah, pengusaha, orang-orang malam, petani, nelayan, dan anak-anak muda yang masih bingung menentukan akan hidup di jalan yang mana. Rumah itu tidak mewah, tetapi justru karena itu ia jujur. Di sana tak ada karpet kekuasaan. Tak ada pendingin udara yang membekukan suara. Tak ada meja yang membuat orang kecil gugup. Yang ada hanya kopi, tubuh, percakapan, dan kesempatan untuk melepaskan topeng. Dari situ Fadey belajar bahwa pengetahuan paling jujur sering datang dari mereka yang tak pernah sempat belajar cara membungkus luka dengan istilah.
Ia sendiri tumbuh sebagai anak zaman layar. Sekolah di dekat patung tugu tani. Tugu Tani monumen perunggu di Jakarta diresmikan Soekarno tahun 1963 simbol perjuangan rakyat. Patung seorang ibu tani melepas anaknya hanya mengenakan topi caping petani, celana pendek tanpa baju memanggul senjata laras panjang dan pistol FN dipinggang berperang melawan Belanda di Irian Barat. Sebuah lambang patriotisme bukan angkatan ke 5. Fadey, les Mandarin hingga intonasinya dipuji gurunya, belajar Hanzi dan Pinyin, meminta VCD lagu-lagu Mandarin dari Glodok, les Inggris di Slipi, basket di GBK dan kadang Kemang, belajar Aikido bersama lingkungan Paspampres, dan berdiri memandang Jakarta dari tempat tinggi. Semua itu tidak menjadikannya jauh dari kampung. Justru sebaliknya. Semua itu memberinya alat untuk membaca lebih dalam. Bahasa membukakan jendela, tapi rumah mengajarinya agar tidak lupa jalan pulang. Layar memberinya kecepatan, tapi Bunda dan Ayah mengajarinya pusat. Dunia memberinya banyak pintu, tapi kampung dan tubuh terus mengajarinya bahwa manusia tak boleh dipotong-potong jadi data semata.
Pelan-pelan, Fadey mulai mengerti bahwa dunia tak cukup dibaca dengan satu mata. Ia perlu Kitab Firasat, yang mengajarkan bahwa gejala kecil tak boleh diremehkan, bahwa tubuh menyimpan kebenaran lebih jujur daripada mulut, dan bahwa pembaca yang baik harus rendah hati. Ia juga perlu A-Z metode digital, yang mengajarkan bahwa dunia modern meninggalkan jejak: data, relasi, lokasi, pola, bahasa, percakapan, dan keputusan. Dari sana ia belajar bahwa satu kampung yang harus membayar untuk mandi bukan sekadar nasib, melainkan hasil dari kota yang salah susun. Bahwa satu pengemudi ojol yang disuspend bukan sekadar error, melainkan bagian dari sistem yang terlalu dingin untuk mendengar tubuh manusia. Bahwa satu sumur bor, satu jalan, satu tarif, satu dashboard, satu kata “efisiensi,” bisa menjadi pisau halus yang mengiris martabat tanpa bunyi.
Dan ketika Prof. Robertus Robet masuk ke dunia bacanya dengan gagasan ekosipasi, Fadey semakin paham bahwa penderitaan manusia tak pernah bisa dipisahkan dari penderitaan alam. Air yang disedot, tanah yang diperas, sungai yang diracun, udara yang dipenuhi racun, semuanya akhirnya pulang ke tubuh manusia juga. Pada anak-anak yang batuk. Pada ibu-ibu yang pusing. Pada kampung yang kehausan. Pada kota yang makin panas. Pada dunia yang kelihatan maju, tetapi diam-diam kehilangan jiwa.
Kota yang Memaksa Orang Miskin Membayar untuk Menjadi Manusia adalah novel tentang dua Jakarta yang saling menatap tapi tak pernah sungguh mau mengaku sebagai saudara. Ini adalah kisah tentang tubuh yang jadi arsip luka, tentang kampung yang menopang kota sambil dipaksa diam, tentang algoritma yang lebih dipercaya daripada manusia, tentang hukum yang bisa menjadi selimut atau belati, tentang air yang dibagi tidak adil, tentang kota yang cantik di wajah tetapi letih di nadi. Dan di tengah semua itu, ini adalah kisah tentang seorang anak yang tumbuh bukan untuk sekadar hidup, tetapi untuk belajar membaca dunia sebelum dunia selesai mengeraskannya.
Sebab yang paling pilu dari kemiskinan bukan hanya lapar, bukan hanya sempit, bukan hanya tubuh yang cepat aus. Yang paling pilu adalah ketika manusia dipaksa membayar mahal untuk hal yang paling dasar: untuk mandi, untuk berak, untuk bernapas lega, untuk tidur tenang, untuk tidak dipermalukan, untuk tetap merasa dirinya manusia di bawah langit Tuhan. Dan ketika Wahyu berkata, “Tai aja berharga di sini,” sesungguhnya yang sedang terdengar bukan hanya keluhan seorang pak ogah yang diare. Yang sedang terdengar adalah jeritan sebuah kota yang terlalu lama hidup dari penghinaan kecil yang diulang setiap hari sampai orang-orang terbiasa menganggapnya biasa.
Novel ini tidak datang untuk membelai pembacanya dengan rasa nyaman. Ia datang seperti hujan yang menetes ke atap seng malam-malam, “pelan, dingin, tetapi tak bisa diabaikan”. Ia ingin membuat siapa pun yang membacanya berhenti sejenak, menunduk, lalu bertanya dengan jujur, “kalau bahkan untuk membuang sakit dari tubuhnya sendiri orang miskin harus membayar, maka kota ini, sebenarnya, dibangun untuk siapa?”.
Next…. Bab I -XV