Home About
Masyarakat & Perubahan Sosial Indonesia (MIRI) March 23, 2026

Taman Ria: Ketika Bang Ali Membela Pacaran, Bukan Pelacuran

Taman Ria: Ketika Bang Ali Membela Pacaran, Bukan Pelacuran

Taman Ria: Ketika Bang Ali Membela Pacaran, Bukan Pelacuran

(Catatan tentang cinta rakyat, kota yang sesak, dan ruang yang dijual kembali)



Sejarah Taman Ria Senayan, kebijakan Ali Sadikin membela pacaran, dan kontradiksi Senayan Park sebagai simbol Jakarta yang berubah dari ruang sosial menjadi ruang ekonomi.


Taman Ria Remaja Senayan pernah menjadi ruang bernapas bagi rakyat kecil Jakarta. Kini bekasnya menjadi Senayan Park, simbol kota modern yang mengoptimalkan nilai ekonomi ruang. Tulisan ini membongkar kritik sosial Ali Sadikin tentang cinta rakyat, kepadatan kampung, dan perubahan wajah Jakarta dari kota yang memberi ruang sosial menjadi kota yang menjual pengalaman konsumsi.


Jakarta tidak lahir sekaligus sebagai kota. Ia tumbuh seperti tubuh yang dipaksa dewasa sebelum cukup makan, "tulangnya meninggi, jalan-jalannya dibuka, lampu-lampu dinyalakan, tetapi napas rakyatnya tetap pendek". Di gang-gang sempit, rumah-rumah berdempetan seperti nasib yang dipaksa akur. Satu kamar menampung kakek, nenek, anak, menantu, dan cucu. Dalam kepadatan seperti itu, kemiskinan bukan cuma soal perut, melainkan juga soal ruang. Orang miskin tidak hanya kekurangan uang. Mereka juga kekurangan halaman, kekurangan privasi, kekurangan tempat untuk merasa menjadi manusia yang utuh.


Fakta terciptanya jurang sosial dalam masyarakat. Merupakan gejala yang umum terjadi di seluruh Indonesia, tetapi lebih terasa di Jakarta. Bang Ali biasa kamo menyapanya, pernah mengakui bahwa 80 persen penduduk ibukota masih hidup dalam suatu tingkat hidup yang di bawah standar. Ini berarti menyangkut kurang lebih 4 juta jiwa pada tahun 1970.


Di kota semacam itulah Taman Ria Remaja Senayan lahir. Sejarah populer Jakarta mencatat taman ini dibangun pada 1970, diprakarsai Yayasan Karya Bhakti Rukun Ibu Ampera, lalu diresmikan pada 15 Agustus 1970. Latar yang paling sering disebut adalah keprihatinan atas kenakalan remaja dan kebutuhan akan ruang hiburan yang sehat. Pada fase berikutnya, kawasan ini dikenal luas sebagai taman hiburan rakyat di Senayan, dengan luas sekitar 11 hektare, bangunan sekitar 21.000 meter persegi, dan danau sekitar 6 hektare. Ia bukan sekadar wahana. Ia adalah ruang bernapas bagi rakyat kota.


Untuk memahami makna taman itu, kita tidak cukup membaca peta, angka, atau daftar wahana. Kita harus membaca pikiran seorang gubernur bernama Ali Sadikin. Dalam ingatan sejarah Jakarta, Bang Ali selalu hadir dengan dua wajah sekaligus, "keras dan penuh terobosan". Ia bisa tegas, bisa marah, bisa kontroversial, tetapi ia juga salah satu pejabat yang tampaknya sungguh memikirkan bagaimana rakyat miskin hidup sehari-hari di ibu kota. Gambaran sosok Bang Ali ketika berinteraksi. Beliau juga penyumbang LBH Jakarta dan menjadi Dewan Penyantun YLBHI ketika bersamanya mengikuti rapat dan berkunjung dikediamanya Jl. Borobudur No.2, Menteng, Jakarta Pusat. Sampai akhir hayat kritis pada kebijakan yang tidak berpihak pada kaum miskin.


Era kepemimpinannya dikenang lewat pembangunan gelanggang remaja, Taman Ismail Marzuki (TIM), Ancol, museum, dan fasilitas kota lain yang bukan hanya fisik, tetapi juga kultural dan sosial.Ada satu lapisan lain yang sering luput ketika orang membaca kebijakan-kebijakan Ali Sadikin. Ia bukan hanya gubernur yang keras. Ia juga generasi yang tumbuh dalam masa penghinaan kolonial. Generasi yang melihat langsung bagaimana ruang kota dibagi bukan hanya oleh uang, tetapi oleh ras, warna kulit, dan status sebagai “inlander”.


Di banyak tempat eksklusif pada masa Hindia Belanda, kolam renang, hotel, klub rekreasi terpasang papan larangan yang terkenal kejam dan telanjang, “Verboden voor Honden en Inlanders.” (Dilarang masuk bagi anjing dan pribumi). Kalimat itu bukan sekadar tulisan. Ia adalah sistem. Ia adalah pelajaran pertama tentang bagaimana ruang bisa menjadi alat penindasan. Anak-anak muda pribumi belajar sejak dini bahwa kota bukan milik mereka. Bahwa ada bangku yang tidak boleh diduduki. Ada taman yang tidak boleh dimasuki. Ada hiburan yang hanya boleh dinikmati orang lain.


Ali Sadikin muda menyimpan ingatan itu.

Dalam beberapa kesempatan berbicang, ia pernah mengisahkan bagaimana pengalaman masa kolonial menanamkan rasa terhina sekaligus tekad untuk mengubah wajah kota. Kota merdeka, baginya, tidak boleh lagi memiliki ruang yang secara halus maupun kasar mengatakan kepada rakyatnya, "kamu tidak pantas berada di sini".


Di sinilah kita bisa membaca kebijakan-kebijakannya secara lebih dalam. Taman Ria, Ancol, gelanggang remaja, bahkan pembukaan ruang hiburan rakyat bukan sekadar proyek rekreasi. Ia adalah proyek harga diri urban. Ia ingin memastikan bahwa anak-anak muda pribumi yang dulu mungkin hanya bisa memandang pagar tempat hiburan kolonial kini punya tempat untuk masuk, duduk, tertawa, dan jatuh cinta tanpa diusir.


Bang Ali memahami bahwa kemerdekaan politik tanpa kemerdekaan ruang adalah kemerdekaan yang setengah. Karena itu ketika ia berkata dalam wawancara Majalah Tiara (1991) bahwa pacaran tidak boleh diganggu, sebab rakyat kampung tidak punya tempat untuk itu, kita bisa membaca kalimat itu sebagai gema jauh dari luka kolonial. Ia tahu rasanya menjadi generasi yang tidak punya ruang. Ia tahu bagaimana menyakitkannya ketika kota terasa milik orang lain. Maka ia ingin memastikan bahwa Jakarta merdeka tidak mengulang penghinaan lama dalam bentuk baru.


Namun sejarah bergerak dengan ironi.

Ketika Taman Ria Remaja Senayan berubah menjadi Senayan Park, sebagian orang melihat modernisasi. Sebagian melihat kemajuan. Tetapi sebagian lain melihat sesuatu yang lebih subtil. Kembalinya eksklusivitas ruang dalam bentuk yang lebih sopan. Tidak ada lagi papan bertuliskan “Verboden voor Inlanders”. Tidak ada lagi penjaga kolonial yang mengusir. Tetapi ada harga, ada gaya hidup, ada norma konsumsi yang pelan-pelan menyaring siapa yang merasa pantas berada di sana.


Dulu larangan bersifat rasial. Kini penyaringan bersifat ekonomis dan kultural. Dulu pagar tampak nyata. Kini pagar hadir sebagai ambience.


Inilah ironi sejarah kota. Ruang yang dahulu diperjuangkan agar inklusif bagi rakyat, lambat laun kembali menjadi ruang yang hanya sepenuhnya nyaman bagi mereka yang memiliki modal ekonomi dan modal gaya hidup. Modernitas memang menghapus penghinaan yang vulgar, tetapi sering menggantinya dengan eksklusivitas yang lebih halus yang tidak melarang secara langsung, tetapi membuat sebagian orang merasa asing di kotanya sendiri.


Karena itu membaca Bang Ali tidak cukup sebagai nostalgia. Ia harus dibaca sebagai kritik ekonomi-politik ruang. Ia.mengingatkan bahwa kota merdeka harus terus-menerus waspada agar tidak menciptakan “papan larangan baru” dalam bentuk yang lebih elegan. Sebab bagi rakyat miskin, kehilangan ruang hiburan murah bukan hanya kehilangan tempat bermain. Itu bisa berarti kehilangan rasa memiliki terhadap kota.


Dan ketika rasa memiliki itu hilang, kemerdekaan terasa semakin jauh, meskipun bendera telah lama berkibar. Taman Ria bukan proyek hiburan biasa tapi bagian dari politik ruang. Bang Ali tampaknya memahami bahwa moralitas tanpa infrastruktur sosial hanya akan melahirkan kemunafikan. Anak muda dilarang liar, tetapi tidak diberi tempat bertemu. Remaja diminta tertib, tetapi tidak diberi ruang untuk menyalurkan bakat, gairah, rasa ingin tahu, dan kebutuhan bergaul. Karena itu, pada masa yang sama, Ali Sadikin mendorong Gelanggang Remaja Bulungan sebagai tempat menampung anak muda dalam kesenian dan olahraga. Dalam satu kutipan yang terdokumentasi, ia menegaskan bahwa Jakarta tidak hanya membangun fisik, tetapi juga membangun budi.


Kutipan wawancaranya dengan Majalah Tiara edisi 4 Agustus 1991, banyak orang merasa kalimat itu sangat “Bang Ali”. Dalam kutipan itu ia berkata bahwa hiburan itu baik, ia membangun Monas dan Ancol, dan ia sengaja melarang orang yang sedang pacaran diganggu. “Kalau melacur tidak boleh, tetapi kalau pacaran, lho itu kan anugrah Allah,” demikian inti pernyataannya yang beredar luas. Ia lalu menerangkan alasan sosialnya, "di kampung-kampung padat, satu kamar bisa dihuni banyak generasi, sehingga orang muda tidak punya tempat yang wajar untuk berpacaran".


Bila kalimat itu dibaca sepintas, orang mungkin hanya melihat sisi sensasionalnya, seorang gubernur membela pacaran. Tetapi bila dibaca lebih dalam, sesungguhnya itu adalah kritik sosial yang sangat serius. Ali Sadikin sedang berkata bahwa cinta rakyat miskin pun membutuhkan infrastruktur. Pergaulan yang sehat tidak lahir dari ceramah kosong. Ia lahir dari ruang yang memberi kemungkinan bagi manusia untuk saling mengenal tanpa harus sembunyi di lorong gelap. Kota yang baik bukan kota yang paling banyak melarang, melainkan kota yang sanggup membedakan antara afeksi manusiawi dan eksploitasi.


Saya sengaja melarang orang yang lagi pacaran diganggu. Awas elu ya, kalau mengganggu. Kalau melacur tidak boleh, tetapi kalau pacaran, lho itu kan anugrah Allah”, tegasnya keras pada petugas. ia sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang lebih besar daripada membela sepasang kekasih. Ia sedang membela hak rakyat miskin untuk menjadi manusia utuh. Sebab hanya orang yang tidak pernah hidup berdesakan yang mengira pacaran itu soal moral semata. Bagi orang kampung miskin di Jakarta, pacaran adalah soal ruang. Soal di mana seorang anak laki-laki bisa menatap mata seorang gadis tanpa harus terganggu suara panci, radio butut, atau anak kecil yang berlarian di depan pintu. Soal di mana seorang gadis bisa menahan malu dan senangnya ketika jarinya disentuh pelan, tanpa harus dilabrak tatapan orang sekampung. Soal di mana tubuh muda boleh menyadari keberadaannya sendiri bukan sebagai dosa, tetapi sebagai kemungkinan kasih. Pacaran, dalam kota yang kejam terhadap privasi, adalah sejenis kemewahan kecil yang tidak dimiliki rakyat jelata.


Maka Taman Ria Remaja Senayan tidak lahir sebagai hiasan. Ia lahir sebagai jawaban. Sebagai ruang yang memberi napas kepada kehidupan yang terlalu sesak. Sebagai halaman pengganti bagi kampung yang tak lagi punya halaman. Sebagai sore yang disediakan negara untuk anak-anak muda yang di rumahnya tak punya tempat duduk berdua. Di sana, cinta kelas bawah memperoleh sedikit kehormatan.


Barangkali tidak semua orang datang ke Taman Ria untuk bercinta. Ada yang datang untuk tertawa, untuk melihat lampu, untuk naik wahana, untuk makan seadanya, untuk menonton pertunjukan, untuk membawa anak-anaknya berkenalan dengan kota. Tetapi bagi banyak anak muda, taman itu lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah tempat di mana mereka bisa menjadi muda dengan sah. Bisa berjalan lambat. Bisa duduk lama. Bisa memegang tangan dengan hati-hati. Bisa merasakan bahwa tubuh mereka tidak selalu harus tunduk pada pengawasan keluarga, agama, kampung, dan aparat.

Betapa sederhana kebutuhan itu. Betapa besar artinya. Entah berapa banyak benih cinta yang tumbuh disana. Telah melahirkan keluarga-keluarga penghuni bumi.


Kita sering lupa bahwa rakyat miskin bukan hanya butuh beras, pekerjaan, dan angkutan. Mereka juga butuh senja. Mereka juga butuh tawa. Mereka juga butuh ruang untuk menyusun kalimat cinta yang kikuk, ruang untuk merasakan malu yang manis, ruang untuk mengetahui bahwa hidup tidak melulu tentang antre minyak tanah, gaji yang tak cukup, dan tembok rumah yang berlumut. Bang Ali, dengan segala kontroversinya, tampaknya mengerti hal itu. Karena itu kalimatnya menjadi sangat tajam, “Orang tidak mengerti bagaimana sengsaranya hidup rakyat jelata, dus pikiran kita harus sampai ke sana.” Kalimat itu mestinya ditulis besar-besar di tembok balai kota mana pun.


Sebab di republik ini terlalu banyak kebijakan dibuat dari meja yang bersih, oleh orang-orang yang tidak pernah mencium bau kamar pengap, tidak pernah tahu bagaimana rasanya tumbuh dewasa dalam rumah yang tak memiliki sudut rahasia. Mereka pandai bicara tentang akhlak, tetapi tidak pernah memikirkan infrastruktur akhlak. Mereka ingin pemuda tertib, tetapi tidak memberi ruang bagi ketertiban emosi. Mereka ingin anak muda tidak liar, tetapi tidak memberi taman bagi hasrat yang sehat. Mereka ingin masyarakat sopan, tetapi membiarkan kota menjadi kandang sempit yang mengubah segala afeksi menjadi sembunyi-sembunyi.


Dalam konteks itu, Taman Ria adalah kebijakan yang lebih jujur daripada seribu pidato moral. Ia mengakui bahwa manusia butuh hiburan. Butuh tatapan. Butuh rasa senang. Butuh berduaan. Butuh kegembiraan yang tidak selalu harus dibenarkan oleh khotbah. Ali Sadikin tidak sedang membela pelacuran. Ia justru menarik garis yang sangat tegas antara cinta dan eksploitasi. Pacaran boleh. Melacur tidak. Afeksi manusiawi jangan diganggu. Perdagangan tubuh tidak boleh. Itulah garis yang sangat halus, tetapi sangat penting, yang sering gagal dipahami oleh moralitas kampungan yang gemar menyapu semua yang berbau tubuh ke dalam satu keranjang dosa.


Bang Ali, dengan kata lain, lebih modern daripada banyak orang yang mengaku menjaga moral. Namun sejarah kota jarang memberi tempat abadi bagi niat yang baik. Perlahan-lahan, Jakarta berubah. Tanah menjadi makin mahal. Pusat kota menjadi terlalu berharga untuk dipakai sekadar membuat rakyat bernapas. Perhitungan ekonomi menggantikan kepekaan sosial. Dari tahun ke tahun, ruang tidak lagi ditanya, "siapa yang membutuhkanmu?". Ruang mulai ditanya, "berapa nilai yang bisa kau hasilkan?"..Dan begitulah, bekas Taman Ria itu kini berubah menjadi Senayan Park.


Nama baru. Bentuk baru. Logika baru.

Kalau Taman Ria dibangun agar rakyat punya tempat menurunkan sesak, maka Senayan Park dibangun agar lahan punya cara baru memproduksi laba. Danau tetap ada, promenade tetap ada, ruang luar tetap ada, tetapi semangatnya telah berubah. Yang dulu halaman sosial, kini menjadi lanskap komersial. Yang dulu ruang murah-meriah, kini menjadi ambience. Yang dulu membiarkan cinta rakyat tumbuh apa adanya, kini menjual suasana agar cinta tampak lebih cantik di kamera.


Ada lapisan sejarah yang membuat kepekaan Ali Sadikin terhadap ruang menjadi lebih masuk akal. Ia berasal dari generasi yang tumbuh dalam bayang-bayang kolonialisme, sebuah masa ketika ruang kota dibagi menurut ras, status, dan harga diri. Kisah mengenai papan Verboden voor Honden en Inlanders hidup kuat dalam memori sejarah Hindia Belanda sebagai lambang segregasi pada tempat-tempat eksklusif seperti hotel, kolam renang, atau klub. Hal yang sama, disampaikan Prabowo secara di hadapan ribuan kader pada konsolidasi kader Gerindra, di GOR Velodrome, Jakarta Timur, Minggu (16/7/2023).Prabowo mulai mengisahkan, dia berpangkat letnan, tepatnya pada 1978. Ada sebuah kolam renang bekas Belanda di Manggarai, Jakarta Selatan. Di dalamnya terdapat prasasti yang sudah tertutup lumut. Dipicu rasa penasaran, Prabowo membersihkan lumut itu. Dia terkejut saat membaca tulisan di prasasti itu. "Saya bersihkan prasasti itu, saya kaget, di situ ada kata-kata dalam bahasa Belanda "Honden en Inlander Verboden", yang artinya "Anjing dan Pribumi Dilarang"," katanya. "Jadi, kita-kita ini tidak boleh masuk kolam renang kalau zaman Belanda, karena kita dinilai lebih rendah dari anjing. Saya saksi, saya lihat, kok bangsa saya dianggap lebih rendah dari anjing?". Prabowo balik bertanya. Meski begitu dia mengajak kadernya tidak dendam dan membenci, sesuai ajaran orang tua terdahulu, maupun ajaran dari semua agama yang ada di Indonesia.


Demikin juga Ali Sadikin sendiri, pada masa mudanya, pernah menunjuk papan larangan itu secara langsung. Tetapi menghubungkan kepekaannya pada ruang rakyat dengan pengalaman generasinya terhadap penghinaan kolonial adalah inferensi yang kuat. Generasi seperti dia tumbuh dengan pengetahuan pahit bahwa ruang bisa dipakai untuk memisahkan manusia dari martabatnya. Maka, ketika setelah merdeka ia membangun ruang hiburan rakyat di pusat kota, kita dapat membacanya sebagai pembalikan simbolik dari ruang yang dulu menyingkirkan pribumi menjadi ruang yang mengundang rakyat biasa masuk ke jantung Jakarta untuk menonton, tertawa, berjalan, bahkan jatuh cinta.


Di titik ini, Taman Ria Remaja bukan lagi sekadar taman. Ia menjadi sejenis halaman pengganti bagi kota yang kehilangan halaman. Ia menjadi tempat di mana kelas bawah bisa merasakan metropolitan tanpa perlu lebih dulu membeli kemewahan. Anak muda bisa berjalan lambat. Keluarga kecil bisa menonton lampu dan danau. Pedagang kecil bisa ikut mencari nafkah. Pasangan muda bisa duduk berdua tanpa harus merasa seluruh kampung mengawasi. Taman Ria Remaja Senayan, pernah “mengisi hari-hari warga Jakarta.” Kalimat itu sederhana, tetapi penting. Ia menunjukkan bahwa taman itu bukan tempelan kota. Ia adalah bagian dari pengalaman kota itu sendiri.


Dalam kerangka ekonomi-politik, kita bisa mengatakan bahwa Taman Ria bekerja berdasarkan logika nilai guna sosial. Ruang dipertahankan bukan terutama karena seberapa mahal ia bisa dijual, tetapi karena manfaat sosialnya besar. Ia memberi hiburan murah, menurunkan tekanan psikologis kota, menghidupi ekonomi informal, dan membentuk rasa memiliki terhadap pusat kota. Dalam bahasa yang lebih membumi, taman itu membuat rakyat kecil merasa Jakarta juga punya sedikit tempat untuk mereka. Ini sangat berbeda dengan logika ruang kota kontemporer yang semakin menilai lahan dari potensi penghasilan, prestise, dan kemampuannya menggerakkan konsumsi.


Perubahan itu kini tampak sangat terang pada bekas tapak Taman Ria yang telah menjadi Senayan Park, atau SPARK. Secara resmi, SPARK memperkenalkan diri sebagai pusat perbelanjaan berkonsep lifestyle mall. Kawasan ini menawarkan danau, taman kota, skywalk, jogging track, area acara, dan pengalaman urban yang dirancang rapi. Secara arsitektural dan bisnis, ini dapat dipahami. Lahan pusat kota dianggap terlalu strategis untuk tidak dioptimalkan. Maka ruang bukan hanya dipakai, ia diaktivasi. Bukan hanya dikelola, ia diproduksi sebagai pengalaman.


Masalahnya bukan pada keindahan SPARK. Tidak ada salahnya kota menjadi indah, tertata, aman, dan produktif. Kritiknya justru berada pada filsafat ruang yang berubah. Taman Ria lahir dari pertanyaan, "bagaimana rakyat bisa bernapas?". Senayan Park lahir dari pertanyaan, "bagaimana ruang ini bisa menghasilkan?". Perbedaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya itulah jurang sejarah Jakarta modern. Yang satu membangun ruang untuk menyelamatkan kehidupan sosial kota. Yang lain membangun ruang untuk mengoptimalkan performa ekonomi kota.


Bila menggunakan bahasa Henri Lefebvre dan David Harvey, Taman Ria lebih dekat dengan use value, sedangkan SPARK bergerak dalam exchange value. Dulu yang utama adalah manfaat sosial ruang, "pergaulan, hiburan murah, rasa lega, kesempatan menjadi muda dengan wajar". Kini yang utama adalah nilai tukar ruang, "trafik pengunjung, kekuatan tenant, belanja, daya tarik visual, prestige kawasan, dan monetisasi pengalaman". Bahkan cinta pun, bila mau dibuat sedikit puitis, mengalami perubahan status. Di Taman Ria, cinta rakyat mendapat tempat. Di SPARK, cinta disambut sebagai ambience.


Bila dijelaskan ambience berarti suasana, atmosfer, atau nuansa lingkungan di sekitar suatu tempat. Ini mencakup elemen visual, suara, aroma, dan pencahayaan yang menciptakan pengalaman atau kesan tertentu. Istilah ini sering digunakan untuk mendeskripsikan kenyamanan sebuah kafe, restoran, atau ruangan. Bila menggunakan bahasa rakyat, Ambience itu hawa atau rasanya. Kayak pas kamu masuk ke warung kopi yang remang-remang terus merasa, "Wah, PW (posisi wuenak) banget nih," nah, rasa nyaman itulah yang namanya ambience.


Kalimat itu terdengar kejam, tetapi sukar dibantah. Di Taman Ria, dua anak muda dengan uang tipis masih bisa merasa sah menjadi bagian dari kota. Di SPARK, dua anak muda tetap bisa berjalan di tepi air dan memotret senja, tetapi ritme ruangnya ditentukan oleh konsumsi. Makan, nongkrong, membeli minuman, masuk ke tenant, tinggal lebih lama, menjadi nyaman di ruang itu semuanya makin terkait dengan daya beli. Tidak ada pagar besi yang kasar. Tidak ada plakat kolonial yang menghina. Tetapi ada penyaringan halus lewat harga, citra, dan gaya hidup. Semua orang boleh masuk, tetapi tidak semua orang benar-benar merasa memiliki.


Di sinilah ironi kolonial itu kembali dengan pakaian baru. Dulu kota kolonial memisahkan orang secara vulgar. Kini kota konsumsi memisahkan orang secara sopan. Dulu larangan berbunyi keras, "pribumi tidak boleh masuk". Kini ruang semipublik berbunyi lirih, "silakan datang, asal sanggup membayar". Pagar lama dibangun dari ras. Pagar baru dibangun dari ekonomi, estetika, dan norma konsumsi. Itulah sebabnya kritik terhadap transformasi Taman Ria menjadi SPARK tidak boleh dianggap sekadar nostalgia orang tua. Ia adalah kritik terhadap cara kota kontemporer mengusir dengan senyum.


Kita tentu tidak bisa memaksa Jakarta kembali ke tahun 1970. Kota berubah, kebutuhan berubah, dan tata ekonomi berubah. Namun bukan berarti kita harus menyerah pada keyakinan bahwa setiap ruang strategis pusat kota pada akhirnya harus tunduk sepenuhnya kepada logika pasar. Bila begitu, maka hilanglah satu gagasan paling penting dari warisan Bang Ali, bahwa pemerintah kota harus sanggup memikirkan bukan hanya pertumbuhan, tetapi juga kelayakan hidup emosional rakyatnya. Kota tidak hanya perlu jalan, drainase, dan investasi. Kota juga perlu halaman sosial. Tempat di mana orang miskin tidak merasa malu untuk tertawa. Tempat di mana anak muda tidak diperlakukan sebagai ancaman hanya karena sedang jatuh cinta.


Dalam hal inilah kutipan Bang Ali tentang pacaran menjadi jauh lebih besar daripada kesan jenakanya. Itu adalah pelajaran tata kota. Pelajaran bahwa afeksi, hiburan, dan rekreasi murah adalah bagian dari keadilan spasial. Rakyat jelata, kata Bang Ali, hidup sengsara. Pikiran kita harus sampai ke sana. Kalimat itu seharusnya menjadi ujian moral bagi setiap generasi pembangun Jakarta. Ketika sebuah taman rakyat hilang dan digantikan oleh kompleks komersial yang cantik, pertanyaan yang harus diajukan bukan cuma apakah investasi masuk dan foto-foto terlihat bagus, melainkan juga, "apakah rakyat kecil masih punya tempat untuk merasa pantas berada di sana?".


Taman Ria Remaja mungkin telah hilang sebagai bentuk. Tetapi ia tetap hidup sebagai tolok ukur. Ia mengingatkan bahwa kota pernah dibangun dengan sedikit belas kasih yang terlembagakan. Dengan tiket murah, bangku sederhana, lampu taman, dan ruang untuk menjadi muda. Senayan Park, dengan segala kecantikannya, mengingatkan hal lain. Bahwa kota kini semakin fasih berbicara dalam bahasa efisiensi spasial. Kita tidak harus memilih salah satu secara mutlak, tetapi kita wajib jujur melihat kontradiksinya. Di satu sisi, Jakarta menjadi lebih modern. Di sisi lain, ia berisiko menjadi kota yang hanya ramah kepada mereka yang bisa membeli kenyamanan.


Dan mungkin, di situlah pertanyaan paling penting untuk tulisan ini lahir. Di kota yang semakin pandai menjual suasana, masih adakah ruang bagi rakyat biasa untuk jatuh cinta tanpa harus membayar harga modernitas?. Bila jawabannya makin sulit, maka kita bukan hanya kehilangan sebuah taman. Kita sedang kehilangan satu bagian dari jiwa kota.


Karena itu, kehilangan Taman Ria tidak bisa dipahami hanya sebagai hilangnya tempat hiburan lama yang kalah oleh zaman. Yang hilang adalah model pembangunan yang, betapapun paternal dan tidak sempurna, masih mengakui bahwa warga miskin membutuhkan ruang senang yang murah. Hilangnya ruang semacam itu membuat kota semakin berat sebelah. Jakarta tetap punya taman, tetap punya mal, tetap punya kafe, tetapi rasa kepemilikannya makin tipis bagi mereka yang hidup dari gaji pas-pasan. Mereka bisa datang, tetapi tidak sungguh merasa dituju. Mereka bisa menikmati pinggiran ruang, tetapi tidak masuk ke jantung kenyamanan yang dipasarkan. Di sanalah kritik sosial atas SPARK menjadi wajar. Bukan karena ia modern, melainkan karena modernitasnya berdiri di atas penyusutan hak sosial atas ruang strategis kota.


Ali Sadikin tampaknya akan mengerti ironi ini. Ia pernah memikirkan bagaimana rakyat miskin hidup di kampung yang sesak, bagaimana satu kamar menampung terlalu banyak orang, bagaimana kota bisa menjadi kejam hanya karena ia gagal menyediakan katup psikologis bagi warganya. Dari sudut itu, Taman Ria, Ancol, gelanggang remaja, dan ruang hiburan lain bukan sekadar proyek populis. Semuanya adalah infrastruktur martabat. Kota yang memberi ruang hiburan murah sesungguhnya sedang berkata kepada warganya, "kalian tidak hanya berhak bekerja dan menderita, kalian juga berhak bergembira". Itulah inti paling radikal dari kebijakan yang pada zamannya sering disalahpahami hanya sebagai kontroversi.


Bila kita jujur, Jakarta sekarang justru lebih membutuhkan keberanian berpikir semacam itu. Penduduk besar, tekanan hidup tinggi, ongkos rumah mahal, dan ritme kerja yang panjang membuat ruang pelepas stres menjadi semakin penting. Tetapi jawaban yang dominan justru makin komersial; pusat belanja, kawasan lifestyle, ruang hiburan yang indah tetapi mahal dirasakan. Kota seolah percaya bahwa selama ruang terlihat bagus, persoalan sosialnya selesai. Padahal estetika tidak otomatis melahirkan keadilan. Bangku yang cantik tidak berarti inklusif. Danau yang fotogenik tidak otomatis milik semua orang. Ruang publik yang menyatu dengan logika konsumsi tetap menyisakan pertanyaan kelas, "siapa yang dapat bertahan lama di sana tanpa merasa dompetnya diadili?".


Mungkin karena itulah ingatan tentang Taman Ria terus kembali, bukan hanya di kepala generasi lama, tetapi juga dalam perbincangan tentang Jakarta yang kehilangan banyak tempat murah untuk bersenang-senang. Nostalgia di sini bukan sekadar romantika. Ia adalah alarm. Ia mengingatkan bahwa kota yang terlalu serius memonetisasi setiap jengkal lahan bisa kehilangan kemampuan paling dasarnya. Membuat rakyat biasa merasa diundang. Bila pusat kota hanya nyaman bagi mereka yang mampu membayar konsumsi yang menyertainya, maka demokrasi ruang tinggal slogan. Pada titik itu, warisan Bang Ali justru terasa relevan lagi. Ia mengajukan pertanyaan yang tidak pernah basi. Bagaimana kebijakan kota bisa benar-benar sampai kepada sengsaranya rakyat jelata?. Selama pertanyaan itu belum dijawab secara jujur, Taman Ria akan tetap hidup sebagai hantu yang baik di tengah Jakarta mengganggu, mengingatkan, dan bertanya terus-menerus kepada kita semua.


Dan barangkali di situlah kesimpulan paling sederhana dari seluruh kisah ini. Sebuah kota diuji bukan hanya oleh gedung tertingginya, tetapi oleh seberapa jauh ia mau menyediakan tempat bagi orang yang paling biasa. Tempat untuk duduk, tertawa, bernafas, menunggu sore, dan memegang tangan orang yang dicintai tanpa rasa diusir. Bila kota gagal memberi itu, ia mungkin sukses sebagai etalase. Tetapi ia gagal sebagai rumah bersama bagi warga. Dan kegagalan semacam itu selalu mahal, meski tak tercatat.

- Penta Peturun- 2 Syawal 1447

Share this: