SALAM DARI JIWA YANG TIDAK MATI
Malam Ramadhan yang Meninggi
Ramadhan memasuki malam ketiga.
Kota masih berisik klakson, mesin, notifikasi, ambisi
namun aku berada di atas pusaran kebisingan metropolitan itu.
Bukan secara fisik, melainkan secara batin,
“tempat sunyi yang hanya bisa dicapai ketika lapar menipiskan ego
dan haus membuka telinga jiwa”.
Di ketinggian ini, waktu melambat.
Napas menjadi tasbih.
Dan sebuah lagu mengalir, “ DAUR HIDUP”
bukan sebagai hiburan, melainkan zikir bergerak.
Perkenalan Jiwa
Hai, perkenalkan aku jiwa yang bertahan.
Aku bukan pemenang.
Aku sisa.
Sisa dari hari-hari panjang yang mengajarkanku
bahwa hidup tidak meminta izin sebelum menguji.
Aku telah ditempa keras oleh banyak cerita.
Setiap cerita adalah palu,
dan aku adalah besi yang tidak pernah memilih bentuk,
hanya bersedia dipanaskan.
Aku mati berkali-kali
mati dari harapan yang patah,
mati dari rencana yang runtuh,
mati dari citra diri yang tak lagi relevan.
Namun setiap mati mengajarkanku satu rahasia,
hidup tidak pernah benar-benar pergi.
Daur yang Berputar di Atas Kota
Daur hidup akan selalu berputar.
Ia berputar bahkan ketika lampu-lampu gedung masih menyala,
bahkan ketika manusia saling mendahului di persimpangan ambisi.
Di Ramadhan ini, aku memandang kota dari kejauhan batin.
Suara bising mengecil.
Yang terdengar hanya detak daur
pergi dan pulang, jatuh dan bangkit,
seperti putaran tawaf yang tak pernah bertanya
siapa paling benar, siapa paling lelah.
Tugasku hanya bertahan.
Tidak menuntut hidup menjadi lembut,
tidak memaksa malam segera subuh.
Bertahan adalah ibadah sunyi
yang jarang dipamerkan.
Mengalir Seperti Air
Terus jalan dan mengalirlah seperti air.
Air tidak marah pada batu.
Ia melewati.
Ia mengukir tanpa berisik.
Ia setia pada arah ke bawah, ke rendah, ke asal.
Di Ramadhan ketiga ini,
aku belajar puasa seperti air,
“menahan bukan untuk kering,
melainkan agar aliran menemukan kejernihan”.
Dari lahir sampai aku jadi debu di akhir,
aku hanya tamu yang singgah sebentar
di antara dua keabadian.
“Mengalirlah.
Apa yang mengalir tidak membusuk.”
Pengakuan di Malam Lapar
Bohong jika aku bilang selalu kuat.
Kelemahan sering datang
di jam-jam paling tidak sopan
ketika aku harus terlihat siap,
sementara batinku masih duduk di lantai.
Namun Ramadhan mempertemukanku dengan kawan erat,
“mereka yang tidak menghakimi jeda,
yang memahami diam sebagai bahasa”.
Ayat-ayat pun turun bukan dari langit kata,
melainkan dari kebersamaan yang jujur
dari doa yang saling menguatkan
tanpa perlu disepakati.
Debu dan Kepulangan
Aku tahu akhirnya, “debu”.
Namun debu bukan hilang.
Debu adalah arsip bumi
menyimpan jejak langkah, doa, dan kesalahan
yang pernah sungguh-sungguh dicoba.
Di atas kota yang tak tidur,
aku bersiap pulang suatu hari
tanpa takut, tanpa tuntutan.
Karena yang berputar akan kembali,
dan yang mengalir akan sampai.
Memeluk Segalanya
Hai semua tangis dan tawa di depan mata,
aku tak pilih kasih
akan kupeluk semua.
Di Ramadhan ketiga ini,
di atas pusaran kebisingan metropolitan,
aku tidak meminta hidup menjadi mudah.
Aku hanya berjanji pada diriku sendiri:
terus bertahan,
terus berjalan,
terus mengalir
hingga debu pun mengenal namaku
sebagai bagian dari doa.
1447 H
PENTA PETURUN -
Further Reading
Ramadan di Bawah Bendera Merah
March 2026
TANAH YANG MENGINGAT KAKI
February 2026