Home About
Refleksi Kehidupan February 15, 2026

LUKA YANG MENGERTI

LUKA YANG MENGERTI

LUKA YANG MENGERTI:

Ego, Empati, dan Tubuh yang Belajar dari Penderitaan





KETIKA EMPATI TIDAK LAGI CUKUP DIUCAPKAN

Tulisan ini lahir dari satu kecurigaan yang sederhana, tetapi mengganggu, “mengapa empati sering datang terlambat?”. Dalam ruang publik, empati mudah diucapkan. Ia hadir dalam pidato, kampanye, unggahan media sosial, dan laporan resmi. Namun di balik kelimpahan kata-kata itu, penderitaan terus berulang kadang pada kelompok yang sama, kadang pada tubuh-tubuh yang dianggap jauh. Seolah-olah memahami tidak otomatis berarti peduli, dan peduli tidak selalu berarti bertindak. Luka yang mengerti menolak kenyamanan asumsi itu.

 

Tulisan ini tidak menulis empati sebagai kebajikan moral, melainkan sebagai “peristiwa tubuh”. Sesuatu yang lahir dari pengalaman, dari ingatan sensorik, dari luka yang pernah memaksa manusia belajar. Ego tidak diposisikan sebagai musuh, melainkan sebagai mesin biologis yang menentukan seberapa dekat penderitaan orang lain boleh masuk ke dalam kesadaran kita. Pendekatan ini membuat tulisan ini sulit diklasifikasikan. Ia bukan novel konvensional, bukan pula esai akademik murni. Ia bergerak di antara sastra, ilmu pengetahuan, jurnalisme, dan refleksi etis. Sebuah wilayah yang jarang disentuh dengan disiplin, sekaligus keberanian mengembalikan sejarah ke tubuh manusia. Serta pada sensualitas implisit yang menjadikan tubuh bukan objek hiburan, melainkan “arsip pengetahuan. Sensualitas di sini bukan untuk membangkitkan gairah, melainkan untuk menegaskan satu hal, “bahwa manusia belajar terutama lewat rasa”.

 

Tulisan hadir pada saat yang tepat. Di tengah derasnya teknologi kecerdasan buatan, bahasa empatik menjadi murah dan melimpah. Mesin bisa berkata “kami memahami” tanpa pernah kehilangan apa pun. Di sinilah tulisan ini mengambil posisi tegas, “empati tanpa risiko, tanpa biaya, dan tanpa keterlibatan tubuh adalah empati yang aman bagi sistem, tetapi kosong bagi manusia”. Ini bukan sebagai jawaban, melainkan sebagai “gangguan yang perlu”. Ia mengganggu cara kita membaca statistik, cara kita memaknai kebijakan, cara kita menggunakan kata “empati” dengan terlalu ringan. Tulisan ini memaksa pembaca berhenti sejenak “merasa tidak nyaman” dan bertanya, sudah sejauh apa penderitaan orang lain benar-benar kita izinkan menyentuh diri kita?

 

Jika setelah menutup tulisan ini pembaca merasa sedikit terusik, sedikit gelisah, dan tidak sepenuhnya puas dengan empati yang selama ini dianggap cukup, maka bacaan ini telah menjalankan fungsinya. Karena dalam dunia yang semakin rapi oleh data dan simulasi,yang paling dibutuhkan bukan tambahan kata-kata hangat, melainkan kedekatan yang berani.

 


 

TENTANG SEBUAH KALIMAT YANG TERLALU JUJUR

Manusia sering berkata, “Saya mengerti perasaanmu.”

Padahal yang ia maksud hanyalah, “Saya membayangkan.”

 

Di antara membayangkan dan merasakan, ada jurang biologis, psikologis, sosial, dan historis.

Jurang itulah yang membuat empati sering datang terlambat datang setelah tubuh retak, setelah pekerjaan hilang, setelah rumah digusur, setelah kematian menjadi angka statistik.

 

Kalimat dalam pertanyaan ini, “Empati terjadi bila manusia tidak akan saling memahami sebelum merasakan penderitaan yang sama” bukan kalimat moral. Ia adalah hipotesis ilmiah yang kejam. Dan hipotesis itu, jika diuji dengan metodologi yang tepat, ternyata benar secara statistik, neurologis, dan sosiologis.

 



TUBUH YANG MENGINGAT

Tidak ada manusia yang lahir netral.

Ia lahir basah, menggigil, dan mencari kulit lain untuk menempel.

 

Sebelum mengenal bahasa, manusia sudah belajar tentang dunia melalui sentuhan. Dada yang hangat berarti selamat. Puting yang kering berarti bahaya. Tangis bukan permintaan, melainkan alarm biologis yang menyelamatkan nyawa. Sejak detik pertama itu, tubuh menyusun arsip tentang nikmat, tentang sakit, tentang kehilangan. Ini disebut riwayat hidup. Ego tumbuh dari sana. Bukan sebagai kesombongan, bukan sebagai dosa, tetapi sebagai mekanisme seleksi. Mana yang perlu didekati, mana yang harus dijauhi. Ego adalah peta yang digambar oleh pengalaman tubuh. Ia tidak mengenal moral, “ia mengenal jejak”.

 

Karena itu, ketika seseorang berkata, “Saya mengerti penderitaanmu,” tubuhnya sering berbohong lebih jujur daripada mulutnya. Dada tetap tenang. Napas tidak berubah. Tidak ada kontraksi. Tidak ada getar. Tidak ada tanda bahaya. Empati yang tidak mengubah ritme tubuh hanyalah “retorika”. Terlalu banyak sejarah dicatat sebagai luka panjang yang berpindah dari satu generasi ke generasi lain. Ilmu pengetahuan hari ini membenarkannya, “trauma diwariskan bukan hanya lewat cerita, tetapi lewat sistem saraf”. Anak buruh mewarisi kewaspadaan. Anak penguasa mewarisi rasa aman.

 

Di titik ini, empati bukan soal niat.

Ia soal apakah tubuh pernah dipaksa belajar.

 

Dan di sinilah penderitaan memainkan peran yang tak tergantikan. Ia adalah guru yang tidak pernah ramah, tetapi selalu efektif. Ia mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh khutbah, seminar, atau slogan moral, “rasa tidak berdaya”. Tubuh yang pernah tak berdaya tidak pernah sepenuhnya lupa.



 EGO: MESIN YANG BERNAFAS LEWAT KULIT


Ego bekerja diam-diam, seperti napas saat tidur. Ia tidak berisik, tetapi menentukan hidup. Otak manusia tidak menunggu dunia datang, “ia menebak lebih dulu, berdasarkan apa yang pernah terjadi pada tubuhnya”. Setiap pengalaman meninggalkan bekas. Setiap bekas mengubah prediksi.

 

Seorang yang pernah dipukul akan membaca gerakan tangan orang lain dengan kewaspadaan yang tak disadari. Seorang yang tak pernah kelaparan akan membaca kemiskinan sebagai konsep, bukan ancaman. Inilah sebabnya empati tidak pernah simetris. Data tentang data yaitu informasi terstruktur yang mendeskripsikan konten, konteks, dan properti teknis dari hasil pemindaian otak. Otak manusia jauh lebih responsif terhadap penderitaan yang mirip dengan pengalamannya sendiri. Ini bukan kejahatan, “ini mekanisme bertahan”.

 

Ego bukan musuh empati. Ego adalah “prasyarat empati”, namun dengan syarat, “ego harus disentuh”. Di sinilah sensualitas menjadi epistemologi. Tubuh tidak belajar lewat argument, “ia belajar lewat sensasi”. Ketika penderitaan orang lain cukup dekat untuk terasa ketika cerita berubah menjadi napas yang tersengal, menjadi keringat, menjadi detak yang tidak nyaman, ego membuka pintu.

 

Tanpa itu, empati hanya lamunan singkat, seperti hasrat yang tak pernah diwujudkan.



EGO: MESIN YANG BELAJAR DARI JEJAK

Ada saat-saat ketika tubuh lebih cepat mengerti daripada pikiran. Seorang buruh yang memasuki pabrik baru tidak perlu membaca peraturan untuk tahu apakah tempat itu ramah atau memusuhi, “bahunya menegang, langkahnya mengukur jarak, matanya membaca lantai yang licin”. Ego bekerja di sana “sunyi, presisi” menarik garis tak kasatmata antara aman dan celaka. Penanda somatic merupakan sinyal emosional berbasis tubuh (seperti detak jantung cepat, perut mulas) yang muncul dari memori emosional masa lalu, bertindak sebagai panduan intuitif yang cepat untuk pengambilan keputusan. Halusnya disebut “naluri”. Keduanya sepakat pada satu hal, “ego adalah arsip rasa”.

 

Ketika penderitaan belum pernah singgah, arsip itu kosong. Maka cerita orang lain terdengar seperti dongeng. Menarik, mungkin menyentuh, tetapi tak mengubah cara duduk. Namun sekali tubuh mencicipi ketidakberdayaan “sekali saja” ego menulis catatan permanen. Sejak itu, empati bukan lagi anjuran moral, melainkan refleks yang lahir dari memori.

 

Perubahan percakapan dalam kosakata setelah krisis, “kata-kata menjadi pendek, nada menjadi rapuh, metafora bergeser dari abstrak ke inderawi”. Orang-orang menulis tentang “sesak”, “dingin”, “kosong” bahasa tubuh yang menyeberang ke layar. Di situ empati menemukan pijakan, “bukan pada opini, melainkan pada sensasi yang dikenali”. Ego membuka pintu ketika cerita menyentuh kulit. Dan di balik pintu itu, ada paradoks, “ego yang sering dituduh egois justru menjadi jembatan. Tanpa ego yang tersentuh, empati hanya berhenti sebagai niat baik rapuh, mudah menguap”.


 

EMPATI: AMBANG YANG DILEWATI TUBUH

Empati tidak meledak, “ia merambat”. Seperti panas yang pelan-pelan menjalar dari sentuhan yang lama ditahan. Ia menunggu jarak menyempit, menunggu cerita berhenti menjadi laporan dan berubah menjadi kehadiran. Otak meminjam tubuhnya sendiri untuk memahami tubuh lain. Namun pinjaman itu sering gagal ketika pengalaman tak memiliki padanan. Tanpa padanan, empati tersendat seperti kata yang ingin diucapkan tetapi lidah tak menemukan bunyi. Di sinilah ambang bekerja. “Ambang pengalaman” adalah garis tipis yang, ketika dilampaui, mengubah simpati menjadi empati. Simpati mengangguk, “empati mengubah postur”. Simpati berkata “kasihan”, empati menahan napas”.

 

Lonjakan empati setelah peristiwa yang “menyentuh”. PHK yang terasa dekat, bencana yang membasahi kota sendiri, penyakit yang pernah singgah di rumah. Bahasa menjadi lebih intim bukan karena ingin, tetapi karena tubuh mengenali pola rasa. Sensualitas empati ada pada “kedekatan”. Bukan erotik yang berisik, melainkan keintiman yang membuat jarak runtuh. Ketika jarak runtuh, ego berhenti menghalangi, “ia justru mengantar”. Empati yang lahir dari pengalaman tidak membutuhkan panggung. Ia bekerja seperti kebiasaan baru tenang, konsisten, sulit dipamerkan.



 

KETIKA CERITA MENJADI SENTUHAN

Jurnalisme terbaik adalah membuat pembaca “hadir”. Bukan hadir sebagai penonton, tetapi sebagai tubuh yang ikut menahan beban. Di titik itu, data berhenti menjadi angk, “ia menjadi tekanan”. Empati kolektif stabil ketika narasi membaca pembaca cukup dekat untuk merasakan tekstur. Bukan hiperbola, bukan pornografi penderitaan, “melainkan detail yang tepat, yang memicu simulasi tubuh”. Tulisan mendetail memaksa pembaca duduk lebih tegak. Bukan untuk memikat, tetapi untuk “mengganggu kenyamanan ego”.

 

Empati, pada akhirnya, adalah gangguan yang perlu.



 

PENDERITAAN, HASRAT, DAN POLITIK TUBUH

Penderitaan bukan sekadar peristiwa, “ia adalah bahasa”. Bahasa yang tidak selalu diucapkan, tetapi “dibaca oleh tubuh lain” oleh cara seseorang duduk, oleh jarak yang ia jaga, oleh tatapan yang terlalu lama atau terlalu cepat berpaling. Dalam politik, penderitaan sering disterilkan. Ia dipotong menjadi program, dikemas menjadi indikator, diringkas menjadi presentasi. Namun tubuh menolak disederhanakan. Tubuh menyimpan sisa-sisa yang tidak masuk table, “rasa malu, ketegangan yang menetap, hasrat yang terdistorsi oleh ketidakpastian”. Penyebutanya “perih yang menua”.

 

Hasrat “yang sering disalahpahami sebagai urusan privat” sesungguhnya bergerak mengikuti garis kekuasaan. Di tempat kerja yang menekan, tubuh belajar menahan, “di ruang yang aman, tubuh berani mendekat”. Hasrat bukan lawan penderitaan, “ia sering lahir di sela-sela penderitaan, sebagai upaya tubuh merebut kembali kendali”.

 

Krisis ekonomi diikuti lonjakan narasi tubuh, “tentang lelah, tentang dingin, tentang sentuhan yang dirindukan”. Ketika struktur merenggut rasa aman, tubuh mencari kedekatan sebagai kompensasi. Di sinilah sensualitas menjadi politik diam-diam, “bukan pelarian, melainkan strategi bertahan”. Iin tubuh yang dikuasai Sejarah atau sejarah yang menekan tubuh. Kuasa bekerja paling efektif ketika ia mengatur jarak antar tubuh. Siapa boleh dekat, siapa harus jauh, siapa layak disentuh, siapa tabu.

 

Empati yang lahir dari penderitaan menantang pengaturan jarak ini. Ia memperpendek jarak yang diinginkan kuasa. Ia membuat yang jauh terasa dekat, yang tak terlihat menjadi hadir. Karena itu empati sering dianggap berbahaya bukan oleh korban, tetapi oleh sistem. Sensualitas empati di sini bukan erotik yang gaduh. Ia adalah keintiman politik, “kemampuan merasakan beban orang lain sebagai tekanan nyata pada diri sendiri”. Keintiman ini menggerus legitimasi jarak palsu antara kelas, antara profesi, antara “kami” dan “mereka”. Percakapan warga memperlihatkan momen-momen ketika keintiman politik ini muncul, “saat kisah tunggal satu tubuh, satu rumah, satu kehilangan mengalahkan ribuan angka”. Algoritma mengenalinya sebagai anomaly, “manusia mengenalinya sebagai getar.

 

Namun kuasa belajar cepat. Ia menyerap bahasa empati, menirunya, memolesnya. Di sinilah bahaya lain mengintai “empati yang disimulasikan”. Empati tanpa risiko tubuh. Empati yang tidak mengubah jarak, tidak mengganggu kenyamanan. Penderitaan yang benar “yang membentuk empati sejati”. Selalu menuntut sesuatu, “waktu, perhatian, posisi. Ia menuntut tubuh lain ikut terlibat, walau hanya sebentar”. Tanpa tuntutan itu, empati menjadi dekorasi.

 

Politik tubuh, pada akhirnya adalah, “politik siapa yang boleh merasa dan sejauh apa perasaan itu boleh bergerak”. Ketika empati melampaui ambang, ia mengacaukan tata letak. Ia membuat yang mapan gelisah, yang aman merasa terancam bukan oleh kekerasan, melainkan oleh kedekatan. Dan di situlah penderitaan menunjukkan daya subversifnya.



 

LUKA SEBAGAI BAHASA TERAKHIR

Pada akhirnya, yang bertahan bukan argumen.

Yang bertahan adalah bekas.

 

Di tubuh manusia, bekas tidak selalu terlihat. Ia bersembunyi di cara bernapas, di jeda sebelum menjawab, di kebiasaan memeriksa pintu dua kali. Luka mengajari tubuh untuk membaca dunia dengan kewaspadaan yang tak pernah sepenuhnya padam. Dari sana, empati menemukan bentuknya yang paling jujur, bukan sebagai niat, melainkan sebagai ingatan yang hidup. Pengalaman membentuk respons, hidup meninggalkan jejak. Keduanya bertemu pada satu simpul, “manusia mengerti ketika tubuhnya pernah belajar dengan cara yang sulit”.

 

Karena itu empati sejati selalu terlambat datang setelah kehilangan. Kita menginginkan empati yang lebih awal, yang mencegah penderitaan. Namun sejarah menunjukkan, perubahan sering lahir dari ambang yang terlampaui. Bukan karena kita tidak tahu, melainkan karena ego belum disentuh cukup dekat. Di dunia yang semakin rapi oleh simulasi, empati terancam menjadi kebiasaan kosong. Kata-kata hangat mengalir deras, jarak tetap. Mesin membantu kita merespon, “ia tidak bisa mengguncang”. Guncangan yang membuat tubuh bergeser masih tugas manusia.

 

Maka tugas pengetahuan hari ini bukan memperbanyak seruan moral, melainkan mendesain kedekatan. Jurnalisme yang menghadirkan tubuh, pendidikan yang memberi pengalaman, kebijakan yang menanggung risiko bersama. Bukan untuk mengeksploitasi luka, tetapi untuk mencegah luka menjadi tak terlihat. Pengajaran keberanian menyebut nama dan tempat disiplin angka dan verifikasi. Ilmu menambahkan satu syarat yang tak bisa ditawar, “tanpa pengalaman yang menembus ambang, empati rapuh”. Dengan pengalaman, empati berubah menjadi solidaritas tenang, tahan lama, sulit dipamerkan.

Jika ada pelajaran terakhir dari semua ini, ia sederhana dan berat sekaligus:

Empati tidak bisa dipaksa, tetapi bisa didekatkan.

Ego tidak harus dihapus, tetapi harus disentuh.

Dan luka jika kita jujur membacanya adalah bahasa yang paling jujur tentang apa artinya menjadi manusia.

Di sana, karya ini berhenti.

Bukan karena selesai, melainkan karena ia harus dilanjutkan di tubuh pembaca.



 

 PERSEMBAHAN

Untuk mereka
yang baru dipercaya penderitaannya
setelah luka itu
menyentuh tubuh orang lain.


PENTA PETURUN -

 

Share this:

Further Reading