Home About
Tuesday, 14 April 2026
NEGERI OMONG KOSONG: Membongkar Akal-Akalan, dan Menjaga Akal Sehat
Masyarakat & Perubahan Sosial Indonesia (MIRI) 05 April 2026

NEGERI OMONG KOSONG: Membongkar Akal-Akalan, dan Menjaga Akal Sehat

Cara Membaca Bohong, Membongkar Akal-Akalan, dan Menjaga Akal Sehat. Mula-mula orang bohong karena takut. Lalu bohong karena perlu. Lama-lama bohong karena terbiasa. Sesudah itu, ia tidak lagi merasa sedang memutarbalikkan kenyataan. Ia merasa sedang mengelola keadaan. Di situlah bahaya besar dimulai, “ketika dusta tidak lagi terasa seperti dosa, melainkan seperti keterampilan”. Kutulis ini untuk membongkar mekanisme itu. Bukan untuk mengajari orang jadi pembohong yang lebih canggih. Bukan untuk memberi lisensi curiga pada semua orang. Tapi agar rakyat biasa, orang rumah, pegawai, buruh, mahasiswa, wartawan, aktivis, pedagang, siapa pun yang hidup di tengah banjir omongan, punya satu alat sederhana: cara memeriksa cerita tanpa jadi dungu, tanpa juga jadi bengis.

Indeks Berita

Batu, Tanah, dan Tubuh yang Dirampas dari Akalnya Sendiri
Mistika & Logika

Batu, Tanah, dan Tubuh yang Dirampas dari Akalnya Sendiri

Dari kebun alpukat Siger di Lampung Timur, pelajaran ini keras dan sederhana. Rakyat harus belajar kembali membaca batu. Bukan untuk menjadi geolog semua, bukan untuk menghapus takjub dari hidup melainkan untuk memurnikan takjub itu dari lumpur mistika. Ilmu bukan musuh keajaiban. Ilmu memurnikan keajaiban dengan menunjukkan bahwa dunia material lebih menakjubkan daripada tahayul apa pun. Batu bukan gaib, tetapi sejarahnya luar biasa. Tanah bukan benda rendah, ia rahim kesuburan. Tubuh bukan kutukan, ia amanah semesta. Hutan bukan semata kawasan, ia syarat hidup yang diam-diam ikut bernapas di dalam tubuh manusia.

25 Mar 2026
Rudal di Langit Tehran, Bensin di Dada Jakarta 
Sejarah & Kebangsaan

Rudal di Langit Tehran, Bensin di Dada Jakarta 

Perang Iran vs Israel - AS tak hanya mengguncang pasar energi. Di jalanan Indonesia, ia menjelma ongkos bensin, order yang seret, dan tubuh driver ojol yang dipaksa bekerja lebih lama untuk uang yang sama. Perang tak datang sebagai ledakan. Ia datang sebagai bensin yang mengering di tenggorokan tangki, order yang lambat seperti napas tersengal, lauk yang menipis di piring seng, dan tubuh yang terus dipaksa menyala, basah, lelah, berdenyut. Dan ketika dunia selesai berdebat tentang perdamaian, para driver itu tetap menyalakan mesin lagi karena bagi mereka, perang paling panjang bukan di Timur Tengah.

24 Mar 2026
Di Kepala Perempuan Papua, Dunia Digendong
Sejarah & Kebangsaan

Di Kepala Perempuan Papua, Dunia Digendong

Di tengah dunia yang semakin cepat ini, kita perlu belajar kembali dari langkah-langkah sunyi mereka di tanah Papua. Bahwa bumi tidak membutuhkan penakluk. Ia hanya membutuhkan penjaga. Dan di tanah ini, para penjaga itu berjalan tenang dengan sebuah noken yang menggantung di kepala mereka memanggul kehidupan, memanggul bumi, memanggul masa depan manusia.

06 Mar 2026
Ramadan di Bawah Bendera Merah
Refleksi Kehidupan

Ramadan di Bawah Bendera Merah

Dalam doktrin keamanan Iran, simbol religius berfungsi sebagai pre-escalation signal. Bendera merah Jamkaran menyampaikan tiga lapis pesan militer: 1. Internal Command Signal Rakyat dipersiapkan secara psikologis bahwa konflik adalah respons moral, bukan agresi. 2. Regional Activation Warning Kelompok sekutu memahami bahwa fase respons terbuka. 3. Strategic Deterrence Message Lawan membaca: setiap tindakan berikutnya berpotensi memicu respons multi-front. Tanpa satu pun deklarasi perang resmi.

01 Mar 2026
Wiro Sableng: PERANG RAJA LANGIT
Sejarah & Kebangsaan

Wiro Sableng: PERANG RAJA LANGIT

Penutupan akses navigasi di Selat Hormuz oleh Iran menandai fase baru eskalasi konflik Timur Tengah. Dengan sekitar 20 juta barel minyak dunia melewati jalur tersebut setiap hari, ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini tidak lagi sekadar pertarungan keamanan regional, melainkan ujian nyata bagi ketahanan ekonomi dan rasionalitas politik global. Kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menyerang, melainkan kemampuan berhenti sebelum kehancuran terjadi. Seperti petuah pendekar Nusantara Wiro Sableng, "kemenangan sejati sering lahir bukan dari pertarungan, tetapi dari keberanian menahan amarah".

01 Mar 2026
SALAM DARI JIWA YANG TIDAK MATI
Refleksi Kehidupan

SALAM DARI JIWA YANG TIDAK MATI

Di Ramadhan ketiga ini. di atas pusaran kebisingan metropolitan, aku tidak meminta hidup menjadi mudah. Aku hanya berjanji pada diriku sendiri, terus bertahan, terus berjalan, terus mengalir hingga debu pun mengenal namaku sebagai bagian dari doa.

21 Feb 2026
TANAH YANG MENGINGAT KAKI
Refleksi Kehidupan

TANAH YANG MENGINGAT KAKI

Tanah yang Mengingat Kaki ditulis sebagai catatan ilmiah bukan untuk mengajarkan teknik, bukan untuk menjual keyakinan, melainkan untuk mengembalikan fungsi. Menempatkan tubuh kembali sebagai subjek, bukan sekadar alat yang dipaksa bekerja. Tulisan ini lahir bukan dari saran titah raja atau bisikan ghoib, melainkan dari halaman rumah yang basah oleh embun. Dan tubuh yang akhirnya mau didengar setelah didera tamu tak diundang oleh sel penyusup. Lorong, bau antiseptik, injeksi rumah sakit suatu kebiasaan terpaksa diterima dalam keseharian. Setelah ditempelang, disanalah Tanah yang Mengingat Kaki adalah sebuah cara menjelaskan, “berpijak pada pengetahuan rasional dan istilah ilmiah seperlunya, namun berjalan dengan cerita agar mudah dirasakan oleh tubuh pembacanya”.

19 Feb 2026
PASAR BAWAH : Sejarah Kolonial, Kerja Rakyat, dan Seruit yang Menopang Tanjung Karang
Sejarah & Kebangsaan

PASAR BAWAH : Sejarah Kolonial, Kerja Rakyat, dan Seruit yang Menopang Tanjung Karang

Pasar Bawah Tanjung Karang adalah salah satu simpul kebiasaan itu, “bekerja sunyi, mengisi celah yang ditinggalkan kebijakan”. Ini tidak meromantisasi kemiskinan, dan tidak memuliakan ketahanan sebagai kebajikan. Ia membaca mengapa ketahanan harus terus diproduksi. Dengan sejarah mikro, ekonomi politik, dan antropologi pangan, tulisan ini menelusuri bagaimana eksploitasi diterjemahkan menjadi lapak rendah, porsi kecil, dan etika berbagi di atas lesung batu. Ini dipersembahkan kepada mereka yang tidak pernah masuk laporan, namun memastikan laporan dapat dibuat. Kepada para pedagang Pasar Bawah Tanjung Karang yang menggelar tikar sebelum matahari tinggi dan menggulungnya sebelum sorotan tiba. Kepada dapur-dapur kecil yang memadatkan rasa agar porsi kecil cukup, dan kepada lesung batu yang mengajarkan keadilan tanpa pidato.

17 Feb 2026
ANY WAY THE WIND BLOWS
Refleksi Kehidupan

ANY WAY THE WIND BLOWS

Malam tidak pernah benar-benar sunyi di Blok M. Ia hanya berganti suara. Di sebuah bar kecil, di antara denting gelas dan musik live yang mengalir pelan, empat laki-laki duduk tanpa agenda: pengusaha kafe, advokat, prajurit, dan penjaga parkir. Mereka tidak sedang merancang perubahan besar. Mereka hanya bertahan dengan cerita, tawa pahit, dan bir yang diminum perlahan. Dari meja kayu itulah republik dibicarakan dalam bahasa paling jujur. Tentang kerja yang tidak selalu berujung sejahtera. Tentang hukum yang sering tiba setelah luka mengeras. Tentang kekuasaan yang hadir tanpa suara. Tentang jurang yang makin lebar antara yang kenyang dan yang terus belajar bertahan. Any Way the Wind Blows adalah tulisan ekonomi politik yang lahir dari malam, bukan dari podium. Ia tidak menawarkan heroisme. Ia tidak menjual kemiskinan. Ia hanya merekam manusia sebagaimana adanya rapuh, berpikir, dan tetap berjalan meski arah angin tak bisa dipilih. Di balik angka pengangguran, statistik kemiskinan, dan grafik pertumbuhan, tulisan ini mengingatkan, "selalu ada kehidupan kecil yang luput dicatat, tetapi menentukan watak sebuah republik". Ini bukan kisah kemenangan. Ini kisah bertahan hidup. Dan itu sudah cukup.

17 Feb 2026
HUTAN DILARANG MEMAKAN ANAK SENDIRI
Sejarah & Kebangsaan

HUTAN DILARANG MEMAKAN ANAK SENDIRI

HUTAN DILARANG MEMAKAN ANAK SENDIRI lahir dari pengalaman panjang melihat bagaimana hutan dijadikan dalih untuk menyingkirkan manusia, dan bagaimana manusia dipaksa berhadap-hadapan dengan hukum yang tidak selalu adil. Gunung Balak, Register 38, terletak di Lampung Timur menjadi ruang tempat sejarah berulang. Dari zaman purba, kolonialisme 1935, Orde Baru, hingga Reformasi 1998 dan sesudahnya. Di mana peta kerap berbicara lebih keras daripada suara warga. Di sana, desa bisa hilang dari catatan, tetapi tidak dari ingatan. Di sana, warga bisa disebut perambah, tetapi tetap manusia. Di sana, hidup harus dipertahankan bahkan ketika keberadaan dipersoalkan.

16 Feb 2026

Terbaru

Terpopuler