Home About
Tuesday, 17 February 2026
PASAR BAWAH : Sejarah Kolonial, Kerja Rakyat, dan Seruit yang Menopang Tanjung Karang
Sejarah & Kebangsaan 17 February 2026

PASAR BAWAH : Sejarah Kolonial, Kerja Rakyat, dan Seruit yang Menopang Tanjung Karang

Pasar Bawah Tanjung Karang adalah salah satu simpul kebiasaan itu, “bekerja sunyi, mengisi celah yang ditinggalkan kebijakan”. Ini tidak meromantisasi kemiskinan, dan tidak memuliakan ketahanan sebagai kebajikan. Ia membaca mengapa ketahanan harus terus diproduksi. Dengan sejarah mikro, ekonomi politik, dan antropologi pangan, tulisan ini menelusuri bagaimana eksploitasi diterjemahkan menjadi lapak rendah, porsi kecil, dan etika berbagi di atas lesung batu. Ini dipersembahkan kepada mereka yang tidak pernah masuk laporan, namun memastikan laporan dapat dibuat. Kepada para pedagang Pasar Bawah Tanjung Karang yang menggelar tikar sebelum matahari tinggi dan menggulungnya sebelum sorotan tiba. Kepada dapur-dapur kecil yang memadatkan rasa agar porsi kecil cukup, dan kepada lesung batu yang mengajarkan keadilan tanpa pidato.

Indeks Berita

ANY WAY THE WIND BLOWS
Refleksi Kehidupan

ANY WAY THE WIND BLOWS

Malam tidak pernah benar-benar sunyi di Blok M. Ia hanya berganti suara. Di sebuah bar kecil, di antara denting gelas dan musik live yang mengalir pelan, empat laki-laki duduk tanpa agenda: pengusaha kafe, advokat, prajurit, dan penjaga parkir. Mereka tidak sedang merancang perubahan besar. Mereka hanya bertahan dengan cerita, tawa pahit, dan bir yang diminum perlahan. Dari meja kayu itulah republik dibicarakan dalam bahasa paling jujur. Tentang kerja yang tidak selalu berujung sejahtera. Tentang hukum yang sering tiba setelah luka mengeras. Tentang kekuasaan yang hadir tanpa suara. Tentang jurang yang makin lebar antara yang kenyang dan yang terus belajar bertahan. Any Way the Wind Blows adalah tulisan ekonomi politik yang lahir dari malam, bukan dari podium. Ia tidak menawarkan heroisme. Ia tidak menjual kemiskinan. Ia hanya merekam manusia sebagaimana adanya rapuh, berpikir, dan tetap berjalan meski arah angin tak bisa dipilih. Di balik angka pengangguran, statistik kemiskinan, dan grafik pertumbuhan, tulisan ini mengingatkan, "selalu ada kehidupan kecil yang luput dicatat, tetapi menentukan watak sebuah republik". Ini bukan kisah kemenangan. Ini kisah bertahan hidup. Dan itu sudah cukup.

17 Feb 2026
LUKA YANG MENGERTI
Refleksi Kehidupan

LUKA YANG MENGERTI

Manusia sering berkata, “Saya mengerti perasaanmu.” Padahal yang ia maksud hanyalah, “Saya membayangkan.” Di antara membayangkan dan merasakan, ada jurang biologis, psikologis, sosial, dan historis. Jurang itulah yang membuat empati sering datang terlambat datang setelah tubuh retak, setelah pekerjaan hilang, setelah rumah digusur, setelah kematian menjadi angka statistik. Kalimat dalam pertanyaan ini, “Empati terjadi bila manusia tidak akan saling memahami sebelum merasakan penderitaan yang sama” bukan kalimat moral. Ia adalah hipotesis ilmiah yang kejam. Dan hipotesis itu, jika diuji dengan metodologi yang tepat, ternyata benar secara statistik, neurologis, dan sosiologis.

15 Feb 2026
RUMAH SAKIT TANPA DINDING
Masyarakat & Perubahan Sosial Indonesia (MIRI)

RUMAH SAKIT TANPA DINDING

Kita hidup di negeri yang sibuk membangun rumah sakit, tetapi pelan-pelan merobohkan ruang paling tua tempat tubuh manusia belajar pulih yakni hutan.. Sehat bukan sekadar urusan obat dan dinding putih, melainkan urusan udara, tanah, air, pangan, dan martabat. “Rumah Sakit Tanpa Dinding” adalah seruan agar republik berhenti memproduksi pasien lewat kebijakan yang merusak, dan mulai memulihkan manusia dengan memulihkan alam tanpa menipu, tanpa menggusur, tanpa menjual harapan sebagai tiket.

07 Feb 2026
KAIN CEPUK: Tenunan Cahaya
Mistika & Logika

KAIN CEPUK: Tenunan Cahaya

Kain Cepuk Bali tidak lahir dari mesin, melainkan dari kesabaran waktu, ketelitian tangan, dan pemahaman mendalam tentang tubuh manusia. Dalam setiap helai Cepuk, warna bukan sekadar hiasan, tetapi hasil dialog antara cahaya, molekul tumbuhan, dan panas tubuh. Pewarna alami menyerap, menahan, lalu melepaskan energi secara perlahan menciptakan keseimbangan termal, kenyamanan kulit, dan ketenangan yang dapat dijelaskan secara ilmiah sekaligus dirasakan secara batin. Tulisan ini menelusuri kain Cepuk sebagai antarmuka hidup antara manusia dan alam. Tenunan yang bekerja sebagai sistem energi mikro, ritual sebagai teknologi perhatian, dan tradisi sebagai metode ilmiah yang telah diuji oleh ratusan tahun pengalaman. Ditulis sebagai sastra reflektif dengan pendekatan rasional menggabungkan fisika, biologi, kimia, dan etika. Kain Cepuk: Tenunan Cahaya mengajak pembaca memahami bahwa spiritualitas sejati tidak menolak logika, melainkan lahir dari ketepatan, keseimbangan, dan tanggung jawab terhadap tubuh serta bumi.

04 Feb 2026
NEGARA YANG RAGU: Bercermin pada Jinghis Khan
Masyarakat & Perubahan Sosial Indonesia (MIRI)

NEGARA YANG RAGU: Bercermin pada Jinghis Khan

Meski Jinghis Khan memang melakukan banyak kekerasan dalam penaklukannya, kontribusi positifnya dalam perdagangan, hukum, toleransi agama, inovasi sosial, dan pertukaran budaya membuatnya dikenang sebagai salah satu pembentuk dunia modern. Bercermin darinya. Negara tidak runtuh oleh pemberontakan. Ia memudar oleh penundaan. Ia tetap berdiri, berbicara, dan menagih. Namun berhenti melindungi. Ketika tanah berpindah tanpa pulih, kerja dipilih karena terpaksa, dan pajak datang lebih cepat daripada keadilan, negara tidak kehilangan hukum. Ia kehilangan keputusan. Di ruang itulah kepastian lain mengambil alih, dingin, rapi, dan tak menunggu.

03 Feb 2026
 BATU, MESIN DAN JIWA: Peradaban Energi
Refleksi Kehidupan

BATU, MESIN DAN JIWA: Peradaban Energi

Di tanah yang jauh lebih tua daripada nama, manusia selalu menyangka bahwa ia membangun dunia, padahal dunia telah lebih dulu membangun dirinya. Batu-batu menhir berdiri sebagai saksi segala yang hilang, punden berundak menyimpan napas para leluhur, dan Gunung Padang memegang rahasia yang tidak pernah benar-benar ditulis dalam sejarah resmi. Mesin kemudian datang, mengubah tenaga bumi menjadi suara bising yang memekakkan jiwa. Di tengah pertemuan antara batu dan mesin itulah manusia perlahan kehilangan dirinya. Bayangan terlambat mengikuti tubuh, dan jiwa tercecer di antara langkah-langkah yang tidak pernah dipertanyakan.

03 Feb 2026
KETIKA PETA MEMERINTAH JALAN
Kritik Sosial

KETIKA PETA MEMERINTAH JALAN

Simon Weckert seorang seniman meletakkan dalam gerobak berisi ±99 smartphone, mengaktifkan GPS, bergerak pelan di jalan Berlin yang sepi. Tak ada kecelakaan, tak ada antrean. Namun di layar Google Maps, jalan itu memerah, "macet parah". Sistem segera mengalihkan rute ribuan pengendara lain. Itulah fakta hari ini, kita tak diperintah dengan larangan, melainkan dengan rekomendasi. Peta digital, skor, dan algoritma mengarahkan langkah, menentukan pilihan, dan menilai hidup, sementara kita patuh karena takut salah, rugi, atau tertinggal. Saat angka dipercaya lebih dari akal sehat, kekuasaan bekerja paling efektif yakni sunyi, rapi, dan tanpa hak menolak.

01 Feb 2026
HIDUNG BELANG: Bahasa Nafsu dan Cara Kekuasaan Menghindari Tanggung Jawab
Kritik Sosial

HIDUNG BELANG: Bahasa Nafsu dan Cara Kekuasaan Menghindari Tanggung Jawab

Istilah hidung belang terdengar seperti lelucon lama yang aman. Cukup ringan untuk ditertawakan, cukup kasar untuk menegur tanpa harus menyentuh akar masalah. Tetapi justru di situlah ia bekerja sebagai bahasa kekuasaan yang efektif. Dengan satu cap, persoalan hasrat dipindahkan dari wilayah kelas, pendidikan, dan kebijakan publik ke ranah moral personal. Stigma menggantikan analisis, ejekan menggantikan pendidikan. Bahasa ini menurunkan tuntutan terhadap negara dan elite, alih-alih membangun prasyarat pengendalian diri. Masyarakat diajak puas dengan tawa. Nafsu dibebankan pada tubuh individu, sementara struktur yang membentuk hasrat dari ketimpangan, disiplin kekerasan, dan warisan kolonial yang dibiarkan tak tersentuh.

31 Jan 2026
PENJARA TIDAK PERNAH NETRAL
Refleksi Kehidupan

PENJARA TIDAK PERNAH NETRAL

Penjara selalu mengaku bekerja atas nama hukum, tetapi jarang ditanya, hukum untuk siapa. Di balik jeruji yang penuh wajah-wajah kurus dan nama-nama kecil, kejahatan yang lahir dari meja rapat, anggaran negara, dan tanda tangan kebijakan sering berjalan pulang tanpa borgol. Di republik ini, keadilan lebih cepat menghukum yang lapar daripada yang serakah dan dari sanalah kisah ini bermula.

31 Jan 2026
HUKUM YANG SAH, RAKYAT YANG KALAH
Kritik Sosial

HUKUM YANG SAH, RAKYAT YANG KALAH

Negeri ini tidak kekurangan aturan. Ia kekurangan keberanian untuk adil. Jabatan sering lupa bahwa ia amanah; hukum sering lupa bahwa ia melindungi; ilmu sering lupa bahwa ia bertanggung jawab. Di antara lupa-lupa itu, rakyat kecil menanggung akibatnya. Satu batas yang tidak bisa ditawar adalah martabat manusia.

27 Jan 2026

Terbaru

Terpopuler